INILAH.COM, Jakarta – Banyak orang yang menggunakan ponsel berbasis GSM, juga memiliki CDMA. Kendati pertumbuhannya jauh lebih pesat, bisnis CDMA masih sulit menyalip GSM. Ada apa?
Kalvin Lie, analis sektor telekomunikasi dari Panin Securities mengatakan, saat ini ponsel berbasis CDMA (code division multiple access) sudah menggerogoti pangsa pasar GSM (Global System for Mobile communication). Namun, kondisi ini dinilai belum terlalu mengkhawatirkan bisnis GSM.
“Terutama karena GSM masih lebih unggul dari berbagai sisi,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (17/12). Salah satunya adalah sinyal GSM yang lebih kuat dengan suara jernih, didukung penempatan Base Transceiver Station (BTS) hingga ke pelosok daerah. Sementara BTS CDMA masih fokus pada pusat-pusat kota.
Dengan fixed wireless access (FWA) tersebut, konsumen yang menggunakan CDMA harus mengubah kode kota terlebih dahulu jika bepergian keluar kota. Berbeda dengan GSM. “Keadaan itu, pasti jadi pertimbangan konsumen untuk tetap memilih GSM,” ujarnya.
Untuk diketahui, pembeda antara FWA dan seluler adalah pengguna FWA hanya boleh menggunakan nomor tersebut hanya di wilayah tersebut, tidak boleh membawanya ke luar kode area. Sedangkan seluler prefix number yang digunakan berlaku nasional.
Selain itu, teknologi CDMA didesain tidak peka terhadap interferensi. Padahal, kinerja jaringan seluler sangat tergantung efisiensi pemakaian spektrum frekuensi dan sensivitas terhadap interferensi karena spektrum frekuensi merupakan sumber daya yang sangat terbatas. “Ini menyebabkan meski tumbuh pesat, CDMA ke depan sulit menyalip GSM,” paparnya.
Sementara itu, Kalvin menilai, GSM juga unggul dari sisi produk dan pemasaran. Apalagi, GSM masih bisa menurunkan tarifnya. Sedangkan tarif komunikasi ponsel CDMA sudah cukup murah, sehingga sulit diturunkan lagi. Ia mencontohkan tarif Esia yang Rp1 per karakter, sedangkan Telkomsel masih di Rp30-35 per SMS. “Jadi, masih murah CDMA,” ucapnya.
Di sisi lain, pelanggan GSM saat ini sudah mencapai 190 juta pelanggan, jauh lebih besar dari pelanggan CDMA yang baru mencapai 35 juta. “Untuk jangka panjang, GSM akan lebih prospektif,” katanya.
Kalvin menambahkan, dengan pangsa pasar yang besar, tidak heran bila aset ponsel GSM juga jauh lebih besar dibandingkan CDMA. Namun, pertumbuhan aset GSM sebenarnya hanya mencapai 10%, lebih kecil dibandingkan CDMA yang tahun ini mencapai 15-20%. “Hal ini menunjukkan besarnya peluang CDMA untuk tumbuh,” ungkapnya.
Apalagi, imbuhnya, salah satu provider CDMA, yakni Esia, dalam waktu dekat akan mendapatkan izin seluler. Selama ini baru Fren yang mendapat izin seluler. Namun, karena sisi operasionalnya kurang mendukung, kinerja Fren kurang sehat.
Adapun terobosan Esia itu dapat memicu kenaikan pengguna. Sebab dari sisi mobilitas, Esia bisa diakses dari mana saja seperti halnya GSM. “Setelah Esia mendapatkan izin seluler, mungkin akan banyak orang yang pindah dari GSM ke Esia.”
Plt Dirjen Postel M Budi Setiawan mengakui PT Bakrie Telecom (BTEL) sebagai operator Esia sudah melewati serangkaian tahap evaluasi untuk memperoleh lisensi seluler. “Sudah dilakukan evaluasi kecukupan administrasi dan komitmen operator tersebut untuk membangun jaringan seluler,” paparnya.
BTEL memang sudah menggunakan teknologi yang berbasis seluler sama seperti Mobile-8 sehingga untuk memperoleh lisensi seluler cukup evaluasi dan tidak perlu seleksi.
BTEL sendiri mengajukan permohonan lisensi seluler sejak Mei lalu melihat ada 20% pelanggan Esia yang melakukan perjalanan antarkota sehingga membutuhkan roaming. Fasilitas esia gogo atau roaming semu ala FWA dinilai tidak memberikan kenyamanan bagi pelanggan.
Liberalisasi bisnis seluler di Indonesia dimulai sejak 1995, saat pemerintah membuka kesempatan kepada swasta untuk berbisnis telepon seluler dengan cara kompetisi penuh. Teknologi GSM datang menggantikan teknologi seluler generasi pertama Indonesia, seperti NMT (nordic mobile telephone) dan AMPS (advance mobile phone system).
Sementara CDMA merupakan pendatang selanjutnya dengan teknologi seluler 3G, yang menawarkan fitur-fitur yang lebih canggih dibandingkan teknologi GSM. [ast]