Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 Mei 2015 | 14:37 WIB
Hide Ads

Tiga Risiko Besar Ekonomi China 2011

Oleh : Asteria | Minggu, 9 Januari 2011 | 15:02 WIB
Tiga Risiko Besar Ekonomi China 2011
Foto: Istimewa

INILAH.COM, Jakarta - Para pemimpin China optimistis pertumbuhan ekonominya tahunini akan melaju pesat. Namun, ada tantangan besar yang harus dihadapi jika ingin menjaga dukungan publik dan mempertahankan posisinya sebagai negara terbesar kedua dunia.

Shaun Rein, pendiri dan Managing Director China Market Research Group, perusahaan intelijen strategi pasar mengatakan, ada perdebatan di kalangan para pakar, bahwa kepemimpinan di China merasa tidak aman saat ini.

Hal ini karena banyak kemarahan yang diungkapkan di internet atas insiden yang terjadi akhir-akhir ini, salah satunya kasus seks polisi dan skandal prostitusi di Chongqing.

Ia menilai, masalah yang muncul di online ini menunjukkan aksi pemberontakan yang sangat mirip reaksi banyak orang Amerika terhadap tindakan korupsi. "Analis menganggap ini sebagai tumbuhnya pemberontakan di antara massa dan para pemimpin China merasa takut," katanya.

Para pemimpin di China juga mengakui bahwa korupsi dan skandal merupakan masalah serius yang perlu ditangani, namun mereka tidak melihat itu sebagai ancaman sistemik.

Pasalnya, dengan kesenjangan kenaikan pendapatan dan banyaknya polusi, kualitas hidup mayoritas China saat ini jauh lebih baik ketimbang sebelumnya, "Meskipun muak dengan banyaknya kasus korupsi, kebanyakan orang China tetap mendukung pemerintah."

Masalah serius pertama yang diungkapkan Rein adalah meningkatnya inflasi. Meskipun inflasi November 2010 mencapai 5,1%, setiap hari orang China merasa jauh lebih tertekan. Terutama karena harga minyak goreng, telur dan apel meningkat 10% hingga 20% dalam enam bulan terakhir.

"Jangan berharap inflasi akan segera turun. Pasalnya, peningkatan biaya merupakan hal yang sistemik, bukan karena spekulan atau cuaca buruk," ujarnya.

Kendati demikian, naiknya biaya tenaga kerja juga merupakan salah satu pemicu tingginya inflasi. Tahun ini, gaji naik 20% bagi perusahaan seperti Foxconn, produsen elektronik yang membuat sebagian besar produk Apple dan Toyota. Sementara banyak perusahaan, termasuk Nike dan Adidas, sudah beralih ke pusat produksi berbiaya rendah seperti Indonesia.

Biaya real estat pun menekan margin keuntungan, sehingga perusahaan mulai mentransfer kenaikan biaya kepada konsumen. Starbucks dan McDonald pun sudah menaikkan harga untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.

Pemerintah memang terus meningkatkan rasio cadangan perbankan dan menaikkan tarif bunga beberapa kali selama enam bulan ke depan, untuk menekan inflasi. "Namun, kekhawatiran bahwa ekonomi Amerika dan zona Euro goyah, membuat pemerintah China tidak akan mengerem terlalu banyak," terangnya.

Masalah lain yang menurut Rein perlu dicermati adalah tidak adanya rumah yang cukup murah, bersih dan nyaman untuk rakyat biasa. Selama dekade terakhir, pengembang terlalu banyak fokus pada konstruksi mewah, yang menjanjikan margin gemuk.

"Pemerintah pun sebaiknya menekan pengembang untuk membangun unit rumah yang lebih kecil. Selain menaikkan pajak pada unit yang lebih besar, seperti penerapan pajak pemerintah pada mobil mewah seperti Ferrari dan Bentleys," katanya.

Masalah terakhir yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya ketegangan perdagangan China dan AS, situasi yang tentu tidak membantu siapapun. Inilah yang terjadi ketika sebuah negara adikuasa, AS, menderita pengangguran yang mengerikan dan khawatir akan kehilangan pengaruh di dunia.

AS mencari kambing hitam ketimbang meneliti hukum mereka sendiri dan struktur ekonomi yang salah. Sepeti ekonom New York Times Paul Krugman dan Senator AS Charles Schumer yang menyalahkan China. Hal serupa pernah terjadi selama periode menjelang Perang Dunia II.

Rein menambahkan, bahwa mata uang China, renminbi, naik 3% terhadap dolar AS selama empat bulan terakhir. Namun, penciptaan lapangan kerja di AS tetap stagnan. Hal ini juga perlu diwaspadai sebelum situasi memanas antara kedua negara.

Para pemimpin China mungkin berada dalam semangat tinggi, tetapi mereka dinilai realistis dan biasanya sangat cerdas menghadapi tantangan besar dalam cara rasional. "Mereka perlu menjaga kepala tetap dingin untuk menangani masalah-masalah tahun ini," pungkasnya. [mdr]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.