Jumat, 24 Oktober 2014 | 23:51 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Energi Alternatif Air Laut
Headline
istimewa
Oleh: Ahluwalia
ekonomi - Senin, 3 Maret 2008 | 09:01 WIB
INILAH.COM, Yogyakarta - Krisis energi telah mendorong kalangan peneliti mencari solusi. Para peneliti dan akademisi di Yogyakarta misalnya, telah melakukan eksplorasi energi alternatif pengganti BBM dari air laut. Meski mungkin masih kontroversial, penemuan baru ini patut dikembangkan sebagai sumber energi masa depan.
Implikasi pengembangan produk energi alternatif dari air laut ini sangat luas, seperti pengurangan beban biaya produksi semua sektor, dan secara langsung akan menghemat anggaran negara untuk subsidi BBM. Sekadar ilustrasi, subsidi BBM untuk tahun 2007 sudah mencapai Rp 50,64 triliun.
Mereka yang berhasil menemukan energi baru dari air laut adalah para peneliti di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Temuan energi alternatif itu telah dipatenkan dengan nama Banyugeni yang dalam bahasa Indonesia berarti air-api.
Sesuai namanya, Banyugeni merupakan energi berasal dari air (hidrofuel). Banyugeni mempunyai varian produk berupa hidro-kerosene (setara minyak tanah), hidro-diesel (setara solar), hidro-premium (setara bensin), dan hidro-avtur (setara bahan bakar jet). Produk-produk itu akan terus dikembangkan untuk mendapatkan kualitas terbaiknya.
Untuk menghasilkan hidrofuel, digunakan teknologi "mekanotermal-elektrokemis" yang mencakup empat macam proses, yaitu mekanik (gerak), thermal (panas), listrik, dan kimiawi.
Perpaduan keempat proses itu, dengan bahan baku air yang sangat natural, akan menghasilkan beberapa produk bahan bakar yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan.
Kandungan unsur dan sifat bahan bakar minyak yang sudah diolah pada Banyugeni memungkinkannya langsung digunakan pada mesin tanpa terlebih dahulu mengubah atau memodifikasi komponen.
Hasil ujicoba menunjukkan hidro-kerosene dapat langsung digunakan
untuk menyalakan kompor minyak tanah, lampu minyak, atau petromaks.
Hidro-diesel dapat langsung digunakan pada mesin diesel atau mobil dengan bahan bakar solar, sedangkan hidro-premium dapat langsung digunakan pada mobil, motor, atau mesin berbahan bakar bensin dan pesawat aeromodeling. Sementara hidro-avtur telah diujicobakan pada mesin berbahan bakar jet, misalnya untuk pesawat aeromodeling.
Inspirasi penelitian hidrofuel ini, sebagaimana dikemukakan oleh Rektor UMY Dr Khoiruddin Bashori, berasal dari ayat-ayat Al-Qur'an,
At-Thur ayat 6 yang berbunyi 'perhatikan laut yang berapi', Al-Anbiya' ayat 30 yang berbunyi 'Kami jadikan dari air segala sesuatu hidup', dan At-Takwir ayat 6 yang berbunyi 'apabila laut dipanaskan."
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, para peneliti UMY berupaya mengakomodasikan sinyal-sinyal teknologi yang termaktub dalam
al-Qur'an, dengan melakukan penelitian dan pengembangan. Produk-produk dari air laut itu itu aman digunakan. "Tidak korosif, beremisi sangat rendah, dan tidak menyisakan banyak residu," kata Khoiruddin.
Hidro-premium tidak bersifat korosif sehingga tidak menyebabkan karat (skala copper strip corrosion 1a). Ia juga tidak meninggalkan residu (hanya 0,5% vol dari maksimal 2,0 % vol yang diijinkan).
Selain itu kandungan bahan pencemar dari emisi bahan bakar ini sangat rendah, antara lain kandungan sulfur hanya 0,03% wt (dari maksimal 0,05 % wt yang diijinkan) serta kandungan timbal (Pb) hampir nol (dari maksimal 0,013 yang diijinkan). Pada pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini ternyata cukup bagus, memberikan rpm di atas 16.000.
Hidro-avtur juga tidak korosif dan beremisi rendah (total sulfur hanya 10% dari maksimal yang dipersyaratkan) dan tidak mudah membeku (freezing point -45oC). Dari pengujian terhadap pesawat aeromodeling, bahan bakar ini dapat digolongkan sebagai bahan bakar jet.
Untuk penggunaan sebagai jet-fuel, hidro-avtur ini sangat istimewa karena akan tetap bersifat dingin. Ia memiliki IBP (initial boiling point) 164 derajat Celcius. Demikian juga Hidro-diesel, tidak bersifat korosif (copper strip 1a), IBP 201 derajat Celcius, beremisi rendah, dan tidak meninggalkan residu berlebihan, dengan indeks Cetane 51,3.
Hasil pengujian terhadap hidro-kerosene memperlihatkan bahwa bahan bakar rakyat tersebut tidak korosif (copper strip corrosion 1a), IBP 161oC, tidak beracun dan tidak beremisi (total sulfur 0,03% wt dari max 0,2% wt yang diijinkan), dan tidak meninggalkan residu (hanya 0,5 %vol). Pada pengujian dengan lampu minyak, hidro-kerosene tidak menimbulkan asap jelaga yang berlebihan.
Produk-produk itu telah diuji di PT CoreLab Indonesia, sebuah laboratorium internasional yang independen. Hasilnya secara meyakinkan menunjukkan bahwa keempat varian Banyugeni itu telah memenuhi standar Dirjen Migas.
Para ilmuwan UMY itu menyatakan, penelitian ini akan terus dikembangkan, tidak saja pada level laboratorium, namun juga level industri. Tentu saja diharapkan temuan ini dapat memenuhi kebutuhan energi pada sektor transportasi, sektor industri, dan sektor rumah tangga dengan harga yang murah. [Hery Nugroho/P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER