Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 Maret 2019 | 07:23 WIB

Minyak Turun, Subsidi BBM Belum Tentu

Oleh : Ahmad Munjin | Selasa, 28 Juni 2011 | 07:29 WIB

Berita Terkait

Minyak Turun, Subsidi BBM Belum Tentu
inilah.com

INILAH.COM, Jakarta - Penurunan harga minyak ke level US$90 per barel, dinilai tidak berpengaruh pada berkurangnya subsidi BBM. Sebab, meski biaya impor turun, volume konsumsi justru melampaui kuota.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, belakangan ini harga minyak turun dari level US$110-an per barel ke level US$90-an per barel. Kondisi itu, dipicu oleh prediksi ekonomi AS yang tidak lebih baik dari perkiraan. Terutama, setelah Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke merevisi turun target Gross Domestic Product (GDP) negara adidaya itu ke level 2,7%-2,9% dari sebelumnya 3,1%-3,3% untuk 2011.

Harga minyak, lanjutnya, juga mendapat tekanan ke bawah setelah International Energy Agency (IEA) melepas 60 juta barel cadangan minyaknya ke pasar. Di sisi lain, koreksi harga minyak juga dipicu oleh kasus Yunani yang memicu penguatan dolar AS terhadap euro.

"Itulah faktor-faktor yang menyebabkan harga minyak bakal tertekan. Setidak-tidaknya dalam dua bulan ke depan harga minyak akan melemah ke bawah US$90 per barel," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (27/6).

Namun demikian, Kurtubi yakin, dua bulan dari sekarang, proyeksi ekonomi AS bisa membaik. Begitu juga dengan keadaan Yunani. "Setelah dua bulan, hingga akhir 2011, harga minyak berpeluang kembali naik ke level US$100 per barel," timpalnya.

Sementara itu, lebih jauh dia menjelaskan, koreksi harga minyak yang berpeluang terjadi dalam dua bulan mendatang, menurutnya, tidak terlalu berpengaruh positif pada APBN 2011. Memang, dengan penurunan harga minyak, biaya impor turun sehingga mengurangi beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Tapi, tandas Kurtubi, koreksi harga minyak tidak otomatis mengurangi subsidi. Pasalnya, volume konsumsi BBM meningkat tajam sehingga melebihi kuota. Akibatnya, meski biaya impor turun, subsidi BBM tak berkurang karena peningkatan konsumsi. "Bahkan, bisa jadi, konsumsi yang melampaui kuota itu justru memicu naiknya subsidi BBM dalam rupiah," tandasnya.

Di sisi lain, lanjutnya, penurunan harga minyak juga memicu turunnya penerimaan negara dari sektor migas akibat harganya yang turun. Penurunan penerimaan ini, imbuhnya, diperparah dengan lifting minyak yang tidak mencapai target.

Menurutnya, Badan Pengawas Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) hanya berhasil memproduksi minyak mentah 906 ribu barel per hari dari target 970 ribu barel per hari. "Jadi, penerimaan terpukul dari dua sisi, harga yang turun dan target lifting yang tidak tercapai," imbuhnya.

Asal tahu saja, konsumsi BBM bersubsidi untuk 2011 telah melebihi batas kuota yang ditetapkan dalam RAPBN yang sekitar 38,6 juta kilo liter. Sedangkan saat ini, baru empat bulan kuota tersebut sudah melebihi 4% dari konsumsi harian. Bahkan kalau pengaturan tidak segera dilakukan kuota BBM subsidi tersebut akan membengkak menjadi 40 juta kilo liter di 2011 ini.

Sebelumnya, Badan Pengawas Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) memperkirakan kuota BBM bersubsidi alias premium akan direvisi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Perubahan (RAPBN-P) 2011 menjadi 40,2 juta kilo liter. Naiknya kuota premium itu akibat gagalnya rencana pembatasan April lalu. "Untuk RAPBN-P 2011, kuota BBM sebesar 40,2 juta kilo liter," ujar Kepala BPH Migas Tubagus Haryono.

Jumlah tersebut meningkat dari yang ditentukan dalam APBN 2011 yaitu sebesar 38,59 juta kilo liter. Hal tersebut terjadi karena meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan tidak dilakukan pembatasan BBM bersubsidi yang semula akan digelar April lalu. [mdr]

Komentar

x