Find and Follow Us

Selasa, 28 Januari 2020 | 05:22 WIB

Investor Kurang Sreg pada Respons Moneter

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 29 Juni 2011 | 15:02 WIB
Investor Kurang Sreg pada Respons Moneter
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Inflasi Juni 2011 diprediksi mencapai 6%. Meski level tersebut berada dalam target, investor kecewa atas respon moneter terhadap inflasi. Sebab, BI rate tak kunjung naik dari level 6,75% saat ini.

Ekonom Universitas Ma Chung Malang Moch Doddy Arifianto memperkirakan, Juni ini akan mengalami inflasi 6% (year on year). Menurutnya, dari sisi moneter, level tersebut sudah memadai dan terkendali karena berada dalam target Bank Indonesia 5%+1%. Tapi, dilihat dari persepsi investor, menurutnya, kurang sreg dengan inflasi 6%.

Dia menegaskan, investor bukan kecewa pada inflasinya tapi pada respon kebijakan moneter atas inflasi. Pasalnya, suku bunga acuan (BI rate) ditahan di level 6,75%. Artinya, real interest rate (suku bunga riil) hanya sebesar 0,75% sehingga kurang memuaskan bagi investor. "Karena itu, rupiah kembali melemah ke level 8.620-an setelah sempat mencapai 8.500-an per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (28/6).

Semua itu, lanjutnya, akan terjawab pada pengumuman inflasi Juni ini oleh Badan Pusat Statistik (BPS). "Jika inflasi melambung di atas 0,50% (bulanan) bisa memicu aksi pelarian terhadap nilai tukar rupiah karena BI rate saat ini dinilai pasar terlalu rendah," tandas Doddy.

Doddy memperkirakan, Juni ini akan mengalami kenaikan inflasi ke level 0,50% dari inflasi Mei 0,12%. Sedangkan inflasi year on year diperkirakan di level 6% dari 0,58% pada Mei 2011. "Kenaikan inflasi dipicu oleh banyaknya konsumsi yang di-trigger oleh faktor musiman libur anak sekolah, pendaftaran sekolah dan universitas," ujarnya.

Di sisi lain, dari demand, tren core inflation juga konsisten terus naik dari Januari 4,18% ke level 4,64% pada Mei 2011 (year on year). Padahal, headline inflation cenderung turun. Artinya, ada ancaman inflasi yang benar-benar fundamental. "Jadi, Juni ini ada ancaman inflasi," timpalnya.

Tapi, dilihat dari target inflasi Bank Indonesia di level 5% +1%, masih bisa dicapai untuk tahun ini. Ke depan, tinggal mencermati pergerakan harga minyak apakah pemerintah akan melepas subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) atau tidak. "Jika tidak, inflasi 2011, bisa di bawah 6%. Inflasi masih terkendali," ungkapnya.

Hanya saja, dari sisi kebijakan moneter, BI menginginkan BI rate tidak terlalu tinggi karena akan mengundang capital inflow lebih deras lagi. Asal tahu saja, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Mei 2011 terjadi inflasi sebesar 0,12%. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Mei) 2011 sebesar 0,51% dan laju inflasi year on year (Mei 2011 terhadap Mei 2010) sebesar 5,98%

BPS sendiri memprediksi inflasi pada Juni 2011 sebesar 0,1-0,2%. Inflasi dipicu kenaikan harga beras sebesar 1,24% di pekan ketiga Juni 2011. Kepala BPS Rusman Heriawan, Selasa (28/6), mengatakan, perkiraan itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun kemarin.

Selain beras, kata dia, kenaikan harga daging ayam ras yang naik 4,2% punya andil mengerek inflasi. "Kalau bahan makanan, yang memang harus diakui harga beras naik, di atas 1%. Apalagi sumbangan beras itu besar terhadap inflasi, yaitu 5%," kata Rusman.

Tapi Rusman optimistis inflasi di Juni ini tak akan terlalu tinggi. "Apalagi banyak harga pangan lain, seperti minyak dan gula menunjukkan tren penurunan," imbuhnya. [mdr]

Komentar

x