Jumat, 21 November 2014 | 23:15 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ekonom AS: Krisis Sekarang Lebih Buruk dari 2008
Headline
advisorone.com
Oleh: Charles MS
ekonomi - Sabtu, 3 September 2011 | 12:39 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Perkembangan ekonomi dunia terjebak pada "stall speed" dari pertumbuhan rendah dan membutuhkan stimulus fiskal yang lebih besar dan lebih sedikit tabungan untuk memulai pertumbuhan.

Hal ini disampaikan ekonom terkemuka AS Nouriel Roubini kepada CNBC Jumat (2/9). Berbicara di Forum Ambrosetti di Danau Como, dekat Milan, Roubini mengatakan dalam sebuah wawancara: "Kami berada dalam situasi lebih buruk daripada di tahun 2008. Kali ini kita melakukan penghematan fiskal dan bank-bank hati-hati."

Roubini, yang dikenal karena outlook bearishnya pada perekonomian dunia, memperkirakan bahwa ada kemungkinan 60% dari resesi kedua dalam waktu dekat. Data ekonomi minggu lalu disajikan dalam gambaran beragam. Pada hari Kamis, pemerintah AS mengumumkan bahwa klaim pengangguran turun 11.000 ke 409.000 minggu lalu. Jumat, dalam laporan tenaga kerja AS, tidak bertambah di Agustus, tingkat pengangguran stabil di 9,1 persen.

Survei terbaru menunjukkan kepercayaan bisnis dan konsumen di negara maju turun. Ketika ditanya apakah ada kemungkinan negara-negara maju dapat menghindari resesi, Roubini mengatakan: "Itu sangat optimis jika Anda melihat data." "Data ekonomi sulit (yang muncul baru-baru ini) semua melambat, sementara data yang telah keluar adalah untuk masa depan dan itu semua bergerak ke arah yang salah," tambahnya.

Dia juga percaya bahwa putaran ketiga pelonggaran kuantitatif di AS mungkin tidak memiliki dampak jangka panjang, dan bahwa stimulus fiskal lebih lanjut di Eropa dan AS akan dibutuhkan.

"Pasar mungkin reli tetapi jika data ekonomi riil bergerak lambat, kemudian harga aset akhirnya akan pergi," katanya. "Data tahun lalu menunjukkan ekonomi meningkat ketika QE2 diperkenalkan."

Eropa akan menjadi tambahan perhatian dalam beberapa pekan terakhir, dengan beberapa bahkan mempertanyakan apakah mata uang tunggal dapat bertahan dalam krisis ini. Roubini yakin akhirnya akan ada pembesaran Fasilitas Stabilitas Keuangan Eropa (EFSF) atau obligasi zona euro umum.

Ia berpikir bahwa pemerintah zona euro harus mencoba untuk melemahkan euro. Kekuatan mata uang ini mengkhawatirkan beberapa ekonom karena sangat berdampak pada ekspor dari kawasan euro. "Kecuali ada pertumbuhan ekonomi, akan ada masalah lagi," kata Roubini. "Penghematan fiskal adalah negatif untuk pertumbuhan ... (Pemerintah) harus bekerja fokus ke PDB, tidak hanya pada penghematan." Dia pesimis tentang masa depan ekonomi Inggris secara langsung, dan percaya bahwa ekonomi Inggris di ambang kejatuhan ganda (double dip).

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER