Find and Follow Us

Sabtu, 7 Desember 2019 | 23:04 WIB

Krisis Global Tak Bisa Dianggap Enteng

Oleh : Herdi Sahrasad | Rabu, 16 November 2011 | 20:10 WIB
Krisis Global Tak Bisa Dianggap Enteng
topnews.in
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah harus mengantisipasi dampak krisis global atas ekonomi Indonesia. Pemerintah jangan sampai terlena dan terlalu percaya diri bahwa ekonomi RI tahan dari goncangan krisis global.

Ekonom senior Dr Rizal Ramli mewanti-wanti kemungkinan krisis ekonomi di Indonesia pada 2012 yang memiliki sifat sama dengan krisis serupa di 1997-1998. Sebelumnya, IMF dan Bank Dunia sudah mengingatkan pentingnya mengantisipasi dampak krisis keuangan Eropa dan AS terhadap ekonomi RI.

Ekonomi RI relatif rentan dan tidak terlalu kuat menghadapi krisis finansial global. ''Dan yang paling penting, jangan sampai kejatuhan pemerintah menyusul krisis dibajak oleh kelompok yang menyebabkan krisis," kata Rizal Ramli dalam diskusi di Rumah Perubahan, Duta Merlin, Harmoni, Jakarta, bertema Krisis Ekonomi dan Kejatuhan Pemimpin, kemarin.

Indonesia bisa dihantam krisis ekonomi sedahsyat yang pernah dialami negeri ini pada 1997, akibat krisis utang di Eropa dan Amerika Serikat. Pengetatan likuiditas di negara-negara Eropa, sebagai obat krisis utang beberapa negara anggota Uni Eropa bisa membuat hot money di Indonesia ditarik keluar. Padahal saat ini jumlah aliran dana asing alias hot money yang beredar di Indonesia, lima kali lipat dibandingkan 1997.

Ekspor yang terus mengalami perlambatan akibat krisis di Eropa dan Amerika Serikat, juga bakal menekan nilai tukar rupiah. Pada gilirannya, krisis utang di Eropa bakal berimbas pada perekonomian Indonesia.

Rizal mengatakan, penjelasan resmi pemerintah bahwa Indonesia tidak bakal terimbas krisis harus disikapi hati-hati. Persoalannya, sebelum terhantam krisis 1997 silam, juga akibat pemerintah melenakan berbagai sinyal terjadinya krisis. "Kalau mendengar penjelasan resmi pemerintah bahwa Indonesia enggak bakal kena krisis, bahwa ekonomi dan fundamental ekonomi Indonesia kuat sekali," katanya.

Ia menambahkan, "Pernyataan-pernyataan begini sama seperti yang diungkapkan pada 1997-1998, bahwa ekonomi Indonesia fundamentalnya kuat, cadangan devisa besar. Menurut saya kita harus hati-hati, karena cadangan devisa yang besar itu tidak seluruhnya milik pemerintah."

Rizal menyebutkan, dari 110 miliar dollar AS cadangan devisa Indonesia yang punya pemerintah paling banyak seperempatnya. Sisanya itu dimiliki oleh swasta.

"Kita kan menganut sistem devisa yang super bebas. Kalau ada apa-apa, swasta ini pasti telepon banknya supaya uangnya dikirim ke luar negeri. Nah sekarang itu, jumlah uang panas atau hot money lima kali lipat dari 1998," ujar Rizal.

Celakanya menurut Rizal, pemerintah tidak mampu melakukan reformasi birokrasi, sehingga tidak ada perubahan dalam kultur birokrasi.

Sementara itu politisi Partai Gerindra, Fadli Zon, mengkhawatirkan krisis ekonomi menjerat Indonesia pada 2012 mendatang sementara politik kini dijadikan mata pencaharian.

"Krisis ekonomi, kehidupan berarti semakin sulit. Disparitas yang kuat dan lemah akan semakin terlihat. Mayoritas masyarakat mengalami kesulitan hidup luar bisa, untuk bertahan menghalalkan segala cara dan lari ke politik. Dijadikan mata pencaharian," ungkap Fadli.

Memang masalah Indonesia saat ini adalah menghadapi krisis global yang juga merupakan krisis kapitalisme karena negara ini menganut ekonomi kapitalistik liberalistic. ''Mungkin tahun ini kita selamat, tapi belum tentu tahun berikutnya," ujar Fadli. Master lulusan LSE.

Apalagi saat ini korupsi di Indonesia telah menjadi panglima dan ini menurutnya sungguh ironis. Dengan tatanan kehidupan yang menghalalkan segala cara ini, Indonesia dapat terperosok lebih dalam ke lubang kemiskinan. "Saya baru menyadari, yang mempersatukan Indonesia menjadi utuh ini ternyata korupsi. Karena sudah menjadi way of life."

Di Amerika Serikat saat ini, sudah ada perlawanan terhadap kapitalisme. Berbeda dengan Indonesia yang masih percaya diri tidak terkena dampak krisis global sehingga masih mempertahankan neoliberal sebagai landasan.

Pada 2012 keadaan pasti akan sulit, ada suatu momen yang akan dihadapi, mulai dari krisis ekonomi, pangan, kondisi petani, buruh dan nelayan memburuk. Cara terakhir yang bisa ditempuh tinggal beri kesadaran kepada masyarakat tentang perlunya perubahan. [berbagai sumber]

Komentar

Embed Widget
x