Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 September 2017 | 15:47 WIB

Krisis Eropa Biang Kerok Emas Konsolidasi

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 14 Desember 2011 | 08:00 WIB
Krisis Eropa Biang Kerok Emas Konsolidasi
inilah.com/syamsudin nasution
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Hingga akhir 2011, harga emas diprediksi konsolidasi . Jika tembus support US$1.600 per troy ounce, emas bakal susah mencetak rekor tertingginya dalam sejarah pada 2012.

Pada perdagangan Jumat (9/12), emas ditutup di level US$1.710 per troy ounce dan pada Senin (12/12), harga emas ditutup di level US$1.665. Artinya, emas turun US$45 (2,6%) dalam sehari dan hingga Selasa (13/12) siang, penurunan emas bertambah sebesar US$13,07 (0,78%) ke level US$ 1.653,41 per troy ounce.

Harga emas juga mengalami pelemahan terbesarnya dalam tiga bulan terakhir. Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (13/12), harga emas anjlok terdalam sejak Oktober 2011 ke posisi US$1,657,04 per troy ounce.

Kepala Riset Monex Invstindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, dilihat dari chart-nya, harga emas masih konsolidasi. Hanya saja, menurut dia, konsolidasi tersebut melebar. Saat ini, level support US$1.600 menjadi patokan dan menjadi support kunci. Sementara itu, level resistance emas pertama hingga akhir 2011 berada di level US$1.720 per troy ounce.

Karena itu, hingga akhir tahun, emas akan konsolidasi dalam rentang US$1.600-1.720 per troy ounce. "Konsolidasi emas, masih dipicu oleh soal krisis utang di Eropa di mana pasar khawatir Uni Eropa tidak bisa mencegah krisis utang semakin membesar sehingga berdampak buruk ke zona lain di luar Eropa," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (13/12).

Apalagi, lanjut Ariston, beberapa lembaga pemeringkat kembali meninjau peringkat utang negara-negara di kawasan itu baik Moodys Investor Service dan Fitch Rating. Sebelumnya, Standard and Poors Rating Service telah mengancam untuk down grade 15 negara Uni Eropa. "Ketidakpastian inilah yang membuat orang lebih berburu dolar AS dibandingkan emas sebagai safe haven," ujar Ariston.

Dia menegaskan, isu perburuan dolar AS ini, belum akan hilang sampai akhir 2011 sehingga emas konsolidasi. Lebih jauh ia menjelaskan, kondisi saat ini seperti krisis 2008 di mana ketidakpastian ekonomi membuat orang melirik dolar AS terlebih dahulu sebagai safe haven terutama US Treasury dengan tenor 10-30 tahun.

"Jika situasi krisis utang Eurozone mereda, investor baru akan beralih ke aset safe haven yang kedua yakni emas," paparnya. Menurutnya, jika dilihat dari pergerakan harga selama ini, emas menjadi alternatif safe haven kedua setelah dolar AS.

Pada Rabu (14/12) dini hari, Bank Sentral AS The Fed mengagendakan, The Federal Open Market Committee (FOMC). Menurutnya, jika Fed membuka isu tentang Quantitative Easing (QE) tahap ketiga, emas bisa mengalami penguatan tipis ke level US$1.666. "Jika ada sinyal QE akan digulirkan dalam waktu dekat, dolar AS akan melemah dan emas akan terbantu menguat," imbuhnya.

Jika tidak, emas berpotensi melemah ke level support terdekat di level US$1.620. Ariston memaparkan, sejak emas mencapai level tertingginya sepanjang sejarah pada level US$1.920 pada September 2011, emas tidak membuat pola lower-high. "Artinya, emas memiliki bearish pressure sejak mencapai level tertingginya itu," ucap dia.

Di atas semua itu, bagi investor online trading, tidak perlua wait and see. Baik menguat maupun melemah bisa mengambil posisi. Sebab, emas lebih likuid dibandingkan saham. "Emas bisa jual dan beli tanpa menunggu antrian," timpalnya.

Tapi, bagi investor yang konsepnya beli, direkomendasikan buy on dips mendekati level US$1.600 per troy ounce. "Bagi yang mau merealisasikan keuntungan, bisa dilakukan di level US$1.660 per troy ounce," kata Ariston.

Namun demikian, Ariston menegaskan, level US$1.600 menjadi support kunci. Jika hingga akhir 2011, turun ke bawah level itu, emas akan sulit kembali cetak level tertingginya sepanjang sejarah melebihi level tertinggi 2011 di level US$1.920 per troy ounce. Meskipun, dilihat dari historical record-nya, emas mencapai rata-rata kenaikan 20% setiap tahunnya. "Tapi, untuk 2012 belum tentu terjadi," imbuhnya. [mdr]

 
x