Find and Follow Us

Jumat, 22 November 2019 | 22:53 WIB

Bank Dunia: China harus Reformasi Sistem Keuangan

Oleh : Wahid Ma'ruf | Minggu, 8 Januari 2012 | 12:25 WIB
Bank Dunia: China harus Reformasi Sistem Keuangan
facebook twitter

INILAH.COM, Chicago - Bank Dunia menyarankan pemerintah China untuk mereformasi sistem ekonomi domestik sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap ekspor dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick pada Sabtu (7/1) di Chicago dalam sebuah konferensi dengan pada ekonom untuk forum asosiasi ahli ilmu sosial. Sistem tersebut telah meningkatkan keyakinan dalam pemerintah China bahwa perekonomian bangsa tidak akan menjadi destabilisasi dengan reformasi valuta asing. AS dan otoritas internasional telah lama mendesak China untuk membiarkan yuan mengambang di pasar valas.

"Kebijakan China soal nilai tukar tergantugn pada kepercayaan pejabat China dengan struktur perekonomian dalam menyesuaikan dengan sinyal-sinyal perubahan nilai tukar. Pemerintah China mengakui agenda reformasi termasuk sektor keuangan akan lebih kuat dan lebih fleksibel beriringan dengan internasionalisasi renminbi," kata Zoellick, yang dikutip dari yahoofinance.com.

Pemerintah China juga menyadari pertumbuhan ekonomi yang dipicu model ekspor telah sukses selama 30 tahun. Namun tidak akan efektif dalam beberapa dekade ke depan.

Bank Dunia rencananya pada bulan Februari akan merekomendasikan beberapa perubahan termasuk lembaga fiskal untuk lebih simpel namun lebih kuat dan transparan dan lebih akuntabel.

Beberapa politisi AS telah menuduh CHina memperoleh kemajuan ekonomi yang tidak wajar di pasar global dengan menjaga nilai kurs yuan tetap rendah untuk meningkatkan ekspor. Kondisi ini yang telah mendorong Presiden AS Barack Obama untuk mengambil tindakan keras. Tetapi pemerintah AS memilih untuk melakukan pendekatan secara diplomatis.

Bank Dunia menyarankan pemerintah China untuk mengurangi kontrol pada bunga simpanan dan bunga kredit yang diberikan kepada perusahaan milik negara. China perlu mengurangi praktik monopili dan diversifikasi kepemilikan di perusahaan milik negara. Sebab sektor swasta sangat banyak mendapat pembatasan ruang gerak.

Tahun ini, nilai kurs yuan telah meningkat 4% terhadap dolar AS dan mencapai 7,7% sejak China menjaga yuan tetap di level rendah di Juni 2010. Tahun 2010, defisit perdagangan China dengan AS mencapai rekor hingga US$272,1 miliar dari US$226,9 miliar di 2009. Untuk periode Januari-Oktober mulai menunjukkan penurunan menjadi US$245,5 miliar.

Komentar

Embed Widget
x