Find and Follow Us

Rabu, 13 November 2019 | 16:52 WIB

Eropa Embargo Minyak Iran

Senjata Makan Tuan

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 8 Januari 2012 | 15:00 WIB
Senjata Makan Tuan
IST
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Keputusan Eropa mengembargo minyak Iran dinilai jadi senjata makan tuan. Betapa tidak, Eropa yang sedang krisis, sangat tergantung pada minyak dari negeri Para Mullah itu.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, faktor geopolitik Iran bakal berpengaruh pada melambungnya harga minyak 2012. Sebab, Iran merupakan produsen minyak nomor 2 tebesar di OPEC (The Organization of the Petroleum Exporting Countries) setelah Saudi Arabia.

Menurutnya, perseteruan Iran dengan Israel yang mendapat dukungan AS berujung pada AS sendiri yang meminta Eropa untuk tidak membeli minyak Iran. "Iran juga mengancam akan memblokade Selat Hormus yang otomatis akan berdampak pada berlanjutnya lonjakan harga minyak," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini.

Memanasnya tensi geopoliktik Iran, berpangkal pada Iran yang dicurigai punya senjata nuklir yang akan digunakan untuk menyerang Israel. Karena itu, Israel merupakan pihak yang paling tidak senang. Sementara itu, Israel mendapat back-up dari AS. AS meminta dukungan Eropa.

Menurut Kurtubi, Iran berbeda dengan Irak. Irak bisa diserang oleh AS dengan alasan Irak memiliki senjata pemusnah masal. Tapi, AS tidak bisa berbuat demikian pada Iran. "Sebab, Iran negara kuat karena di atas kertas, Iran punya senjata-senjata mematikan," timpalnya.

Karena itu, lanjutnya, Iran berani mengancam untuk menutup Selat Hormus karena Iran punya kemampun untuk blockade itumemaksa tanker tidak keluar masuk Selat Hormus. "AS tidak bisa semena-mena embargo minyak Iran dan Iran akan tetap eksis. Kita tinggal tunggu, kuat mana AS dan Iran," papar Kurtubi.

Padahal, negara-negara Uni Eropa saat ini sedang menghadapi masalah krisis utang yang akut dan perekonomian yang menurun. Akibatnya, dengan tindakan Eropa yang tidak membeli minyak dari Iran justru jadi senjata makan tuan. "Krisis Eropa bisa semakin bertambah parah," timpalnya.

Karena itu, secara ekonomi, Kurtubi meragukan Eropa akan benar-benar mengikuti kehendak AS untuk mengembargo minyak Iran meski di atas kertas sudah ditandatangani. Sejauh ini, Uni Eropa membeli sekitar 450 ribu barel per hari (bph) dari 2,6 miliar bpd yang diekspor Iran. Eropa adalah pasar terbesar kedua untuk minyak mentah Iran setelah China.

Meski begitu, kata Kurtubi, pertimbangan politis bisa mengorbankan faktor ekonomi. Hingga saat ini, dunia belum tahu pasti, apakah ancaman AS yang mengembargo minyak Iran akan betul-betul direalisasikan.

Dia memperkirakan, jika embargo itu hanya berupa ancaman, menjadi alasan harga minyak WTI bisa merambat naik hingga US$110-115 per barel. Sedangkan untuk Indonesia Crude Price (ICP) bisa mencapai US$120 per barel. Tapi, jika ancaman embargo itu direalisasikan dan Iran memblokade Selat Hormus, dalam waktu singkat harga minyak bisa melambung ke level US$150 per barel.

Sementara itu, bagi Iran sendiri, embargo itu akan memaksa Teheran untuk mencari pembeli lain di luar Eropa. "Bisa saja mencari pasar baru karena Eropa tak lagi mau menerima minyak Eropa. Iran masih bisa menjualnya ke China dan India," papar Kurtubi.

Dan, Eropa sendiri tetap akan menderita seiring harga minyak yang pasti akan melonjak. Krisis utang Eropa akan bertambah parah. "Sebab, mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM)," ucap dia.

Asal tahu saja, petinggi Uni Eropa pada hari Rabu (4/1) telah sepakat untuk melarang impor minyak dari Iran. Sementara itu, China juga nampaknya akan mendukung sanksi dari AS tersebut. Namun sejumlah negara di Uni Eropa sebenarnya sangat tergantung pada impor minyak dari Iran.

Salah satunya adalah Yunani, yang saat ini mengimpor 30% minyak domestiknya dari Iran, menurut International Energy Agency (IEA). Artinya, krisis yang memukul Yunani diperparah oleh soal minyak yang sepertiga pasokannya berasal dari Iran. Spanyol dan Italia juga merupakan pembeli terbesar minyak asal Iran.

Perekonomian Yunani telah terbenam dalam resesi dan dapat runtuh secara keseluruhan jika sanksi ini diterapkan, menurut Paul Stevens, ekonom dan professor pada Dundee University di Scotland. Jika itu terjadi, Yunani juga dapat menyeret negara tetangganya di Eropa.

Namun kemungkinannya adalah Yunani bisa saja terpaksa harus mengabaikan larangan impor minyak dari Iran dan Uni Eropa akan memperbolehkannya untuk menghindari bencana ekonomi. Jadi, rencana embargo minyak Iran oleh Eropa justru senjata makan tuan. "Tapi, yang namanya politik, bisa saja mengalahkan hitung-hitungan ekonomi sehingga boikot minyak Iran bisa betul-betul terjadi," imbuh Kurtubi.

Komentar

x