INILAH.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah akan stabil di kuartal kedua tahun ini. Hal ini seiring membaiknya kondisi perekonomian Uni Eropa.
Demikian disampaikan Direktur Direktorat Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo di Gedung BI, Jumat (13/1). "Setiap hari memang begitu, rupiah memang volatile karena memang lagi-lagi situasi di Uni Eropa yang memang tidak menentu. Tapi BI tetap akan ada terus di pasar untuk menjaga stabilitas pasar," kata Perry.
Terkait nilai tukar rupiah tersebut, Perry optimistis rupiah akan menguat seiring dengan membaiknya ekonomi di Uni Eropa. Sementara itu terkait kebijakan pemerintah untuk menerbitkan obligasi pemerintah bertenor 30 tahun ia mengatakan hal itu masih disambut baik oleh investor.
"Ini mengindikasikan bahwa situasi perekonomian Indonesia masih kondusif yang menarik bagi investor. Selain itu penurunan cadangan devisa sebesar US$1 miliar itu kebanyakan untuk stabilitas nilai tukar, akan tetapi kondisi cadangan devisa saat ini yang sekira US$110 miliar itu masih aman," tambah dia.
Tahun ini, BI optimistis arus modal masuk (FDI) akan lebih dari US$119 miliar. Begitu juga dengan arus modal di portofolio. "Masih akan terus masuk (FDI) meski tidak sekencang semester pertama tahun 2010, yang mencapai US$ 10 miliar, apalagi ada PBI Arus Lalu Lintas Devisa dan nilai tukar cenderung efisien," jelas dia. [hid]