INILAH.COM, Jakarta - Penyelesaian krisis yang terjadi di Eropa dapat memberikan pengaruh besar terhadap pegerakan nilai rupiah yang masih terus bergerak di kisaran Rp9.100 - 9.200 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution mengatakan hal itu saat ditemui usai acara me-launching Interkoneksi ATM Mandiri-BCA di Gedung Bank Indonesia (BI), Senin (16/1). "Dengan ekonomi di Amerika relatif menjadi lebih baik, maka akan terjadi arus perpindahan dana dari semua mata uang lain ke arah mata uang dolar," ujarnya.
Saat ini sedang terjadi kurs mata uang di lembaga-lembaga negara lain mendapat tekanan. Tetapi kondisi ini tidak secara terus-menerus terjadi. Selama solusi krisis utang Eropa tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka terus berfluktuasi selama beberapa waktu ke depan.
"Untuk ke depannya selama belum ada ketenangan bagi market, menunggu langkah yang bisa dianggap menyelesaikan persoalan," tegasnya.
Bank Indonesia mencermati perkembangan terakhir di negara Uni Eropa yang mengalami downgrade dari S&P. Apalagi mereka juga masih merencanakan untuk menerbitkan obligasi.
Pada Jumat pekan lalu, lembaga rating Standard & Poor (S&P) menurunkan peringkat kredit sembilan negara dari Uni Eropa. Lembaga ini melihat kebijakan mereka tidak dapat mengatasi tekanan sistemik dalam krisis utang Uni Eropa.
Negara yang dipangkas adalah Italia, Spanyol, Portugal dan Siprus yang dipangkas dua peringkat. Sedangkan Prancis, Austria, Malta, Slowakia dan Slovenia dipangkas satu peringkat. Sementara Jerman merupakan satu-satunya negara yang dengan outlook stabil da rating triple-A. [hid]