INILAH.COM, Jakarta - Menteri Koordinator PerekonomianHatta Rajasa menjelaskan, opsi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi itu tetap harus ada.
"Untuk opsi menaikkan harga BBM subsidi itu harus ada, karena pergerakan harga minyak dunia tidak bisa ditebak ke depannya. Untuk opsi seperti itu harus dijalankan, karena harga energi tidak jelas pergerakannya," ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, Jumat (20/1).
Dia menjelaskan, harga minyak mentah dapat dipengaruhi masalah seperti di Selat Hormuz. Permasalahan di selat ini terkait dengan proyek-proyek nuklir Iran yang banyak ditentang AS dan sekutunya.
Amerika sendiri sudah memberikan sanksi kepada Iran mengenai lanjutan proyek nuklirnya. Bahkan Iran sempat menutup pengiriman minyak lewat selat itu. Karena itu harga minyak mentah sempat melonjak di atas US$100 per barel beberapa waktu lalu.
Ia pun menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI sedang berusaha agar opsi menaikkan harga BBM bersubsidi itu tetap dijalankan. Karena opsi ini sekarang tidak tercantum dalam UU APBN 2012.
Untuk jalan keluarnya, APBN-P 2012 harus direvisi agar opsi tersebut bisa dilakukan. "Pemerintah dalam hal ini, Menteri ESDM dan Komisi VII DPR tampak mencari kesepakatan bagaimana opsi itu ada," tegasnya.
Hatta melanjutkan, pemerintah tetap dengan strategi mengurangi konsumsi BBM subsidi dengan menggunakan bahan bakar gas (BBG). Bahan bakar itu nantinya akan digunakan pada angkutan dan mobil pribadi. Pemerintah memberikan alat konversi gas tersebut kepada angkutan umum secara gratis. "Angkutan umum didorong menggunakan gas agar lebih murah ," jelasnya. [hid]