Kamis, 17 Mei 2012 | 05:45 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Minyak US$200 per Barel Tak Mustahil
Selat Hormuz Bisa Picu Perang Dunia?
Headline
David Sumual - foto: Ist
Oleh: Ahmad Munjin
ekonomi - Senin, 23 Januari 2012 | 06:45 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Jika konflik nuklir Iran-Barat berbuah blokade Selat Hormuz, perang dunia dikhawatirkan pecah. Sebab, Rusia dan China berdiri di belakang Iran. Minyak pun bisa merekot ke level US$200 per barel.

Pengamat ekonomi David Sumual mengatakan, Selat Hormuz sangat vital bagi perekonomian dunia. Pasalnya, minyak yang diproduksi negara-negara bekas Uni Soviet juga melewati jalur ini. Menurutnya, jika Iran benar-benar memblokade Selat Hormuz, akan jadi bencana besar, bukan hanya untuk Iran, tapi juga Eropa, AS dan negara-negara importer minyak Iran.

Karena itu, lanjutnya, banyak orang yang ragu apakah benar Iran berani memblokade Selat Hormuz. Menurutnya, minyak Iran banyak diimpor oleh China, India, dan Jepang. China 10%, India 11% dan Jepang 6%. “Tapi, negara Eropa seperti Italia juga mengimpor minyak dari Iran sangat besar yakni 13% dari total impor masing-masing negara dari Iran,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (22/12).

Bahkan, Yunani mengimpor 34% minyak Iran dan Perancis 4,5% dari total impor minyak negara itu. “Karena itu, jika impor minyak Iran diembargo dan Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak bakal melambung double dari harga saat ini US$100 per barel,” ujarnya. Sedianya, Uni Eropa akan mengumumkan embargo minyak Iran pada Senin, 23 Januari ini.

Karena itu, David menjelaskan, China sangat kuatir dengan penutupan Selat Hormuz ini. Sebab, konflik tersebut, akan mengganggu pertumbuhan ekonomi China yang saat ini justru sedang melambat akibat krisis utang di Uni Eropa dan perlambatan ekonomi AS.

Dikabarkan, Angkatan Laut Kerajaan Inggris telah mengirimkan salah satu kapal perusak mutakhir, HMS Daring, ke Teluk Persia. Kapal baru ini tidak terdeteksi oleh radar. Kedatangan kapal Inggris itu mengikuti kapal induk Amerika USS John C. Stennis. “Tapi, perang ini sebenarnya jadi senjata makan tuan bagi AS dan Eropa karena ekonomi sedang bermasalah,” timpal David.

Iran adalah produsen minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi, di antara 12 negara anggota The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Kapasitas produksi sekitar 3,5 juta barrel per hari. Iran juga merupakan negara yang memiliki cadangan minyak ketiga terbesar setelah Arab Saudi dan Venezuela yakni 151 miliar barrel.

Saat ini, lanjut David, ekspor minyak Irak sedang terganggu. Akibatnya, jika Iran memblokade Selat Hormuz, minyak dunia akan sangat tergantung pada Saudi Arabia. “Jika Iran memblokade Selat Hormuz, arah berikutnya adalah perang,” timpalnya.

Bukan hanya Perang Iran-Barat tapi juga perang dalam sekala besar—perang dunia. Sebab, Rusia dan China punya kepentingan yang besar di Iran. Apalagi, hubungan Rusia-China semakin erat dalam perjanjian satu sama lain secara militer.

Menurutnya, Rusia punya kepentingan proyek infrastruktur energi yang besar dengan Iran. Sementara AS, tidak punya kepentingan energy dengan Iran. Saya takut, yang semula ini konflik biasa menjadi perang di luar kendali (out of control).

Israel, kata David, ditakutkan menyerang langsung ke pembangkit dan instalasi nuklir Iran seperti yang dilakukan pada 1980-an dengan peswat tempur F16. “Jika dibandingkan dengan era 1980-an, kekuatan Iran saat ini tentu sudah jauh berlipat,” ungkap David.

Iran juga, kata David bakal berani melawan Barat karena di belakangnya ada China dan Rusia. Setelah Rusia dan China kehilangan pengaruh di dunia, dengan konflik Selat Hormuz akan jadi meomentum bagi kedua negara besar ini untuk menunjukkan pengaruhnya dengan membela Iran melawan Israel, Eropa dan AS.

Jadi, setelah perang pengaruh secara diplomatik, dikhawatirkan jadi perang nyata. Apalagi, China sudah menyatakan, tidak ragu untuk memproteksi Iran. Di sisi lain, Iran merupakan negara tertutup, sehingga dunia bertanya apakah Iran sudah punya senjata nuklir.

Dampak ekonominya, diperkirakan David, bisa memicu resesi dunia seiring harga minyak yang double. Harga minyak di level US$200 per barel, bukan hal yang mustahil. Memang, dengan melambungnya harga minyak, negara-negara produsen minyak akan diuntungkan.

“Tapi, bagi negara importer minyak seperti Indonesia, kenaikan minyak justru membahayakan. Apalagi dengan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang besar,” imbuh David.

Sebelumnya, Mohammad Khazaee, duta besar Iran untuk PBB menyatakan, negeri Para Mullah itu tidak akan mencoba untuk memblokir Selat Hormuz kecuali jika kekuatan asing berusaha untuk ‘memperketat jerat’ dalam meningkatnya pertikaian nuklir Iran dengan Barat. “Semua pilihan ini akan dibahas di atas meja,” katanya di televisi Amerika Serikat, mengacu pada strategi rute perlayaran, yang merupakan jalur penting untuk seperlima dari perdagangan minyak dunia.

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
te
Senin, 6 Februari 2012 | 16:00 WIB
jika Iran tetap bersikeras, yang ada.... tidak mungkin singa mau menahan lapar. Iran memblokade selat hormuz?? pasti di dobrak, lewat boom. habis di drobrak.. jantung Iran bakalan dihujani boom. hanya 3 hari Iran bisa lenyap. China & Rusia pasti diam. jika China bergerak. ada jepang dan Korea membantai China. hei bro.. sekutu Amerika tidak sebanding dengan kekuatan China dan rusia.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.