INILAH.COM, Brussels - Pemerintah Uni Eropa diharapkan dapat menyetujui sanksi ekonomi baru terhadap Iran atas program nuklirnya termasuk rencana embargo minyak pada Senin (23/1).
Sanksi itu mengikuti langkah-langkah keuangan yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden AS Barack Obama pada malam tahun baru. Eropa merupakan pelanggan kedua terbesar Iran setelah Cina. Hal itu dapat mempengaruhi target sektor minyak Iran. Demikian seperti dikutip dari CNBC.com, Senin (23/1).
"Kami ingin mereka untuk berpikir kalau hal ini menjadi sangat serius," ujar salah satu diplomat.
Negara-negara Barat percaya Iran sedang mencari bom nuklir. Sementara itu, Teheran menuturkan, program nuklirnya untuk menghasilkan listrik. Selain embargo minyak, langkah-langkah Uni Eropa juga diharapkan untuk menyertakan sanksi terhadap bank sentral Iran dan larangan perdagangan emas dengan pemerintah. Tetapi sanksi Uni Eropa cenderung berlaku perlahan-lahan.
Menteri Luar Negeri Uni Eropa bertemu di Brussels dan diharapkan menyetujui fase dalam embargo yang memungkinkan kontrak yang ada harus dipenuhi selama beberapa bulan setelah larang tersebut diberlakukan. Diplomat Uni Eropa menuturkan, masa tenggang kemungkinan akan berakhir pada 1 Juli. Tapi para menteri juga akan membahas gagasan mendirikan tinjauan terlebih dahulu untuk menilai dampak dan biaya larangan. Mereka juga akan meyakinkan Athena itu akan tetap dapat membeli minyak dengan persyaratan wajar setelah larangan mulai berlaku.
Selain itu, dengan bagian penting dari Uni Eropa membeli minyak Iran dicakup oleh kontrak jangka panjang, masa tenggang akan menjadi faktor penting dalam efisiensi-efisiensi langkah-langkah Uni Eropa.