INILAH.COM, Jakarta - Harga minyak akan mengalami kenaikan di tahun 2012 jika masih terjadi ketegangan politik antara AS dan sekutunya dengan Iran.
"Krisis Iran jadi faktor. Negara-negara Eropa belum keluar dari krisis, faktor tersebut tidak berpengaruh pada prospek harga minyak ke depannya," ujar pengamat perminyakan, Kurtubi dalam seminar Economy and Capital Market Outlook, Kamis (2/2).
Dia mengungkapkan,perkiraan harga Crude Brent akan berkisar antara US$100 - US$130 dengan rata-rata sekitar US$115 per barel. Jika pasokan minyak dari Teluk Persia berrkurang karena Selat Hormuz ditutup, maka pasar minyak akan panik.
Dalam hitungan jam harga bisa naik sekitar US$20-US$40 per barel. Apabila krisis berlanjut, dalam beberapa pekan harga bisa menembus US$150 per barel. Bahkan dalam beberapa bulan harga bisa menembus US$200 per barel.
Namun menurut Kurtubi, gejolak harga minyak akan bisa direndam apabila minyak dari Teluk Persia bisa dialirkan melalui pipa ke Laut Merah. Walaupun tidak dapat mengatasi pokok masalah tgersebut. "Dalam kasus ini harga minyak jenis Brent diperkirakan akan di kisaran US$125 per barel," jelasnya. [hid]