INILAH.COM, Jakarta – Meski ekspor mengalami penurunan pada Desember 2011 sebesar 0,22% dibandingkan November 2011, tahun ini pertumbuhan ekspor akan tetap terjaga.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Tony Prasentiantono di Jakarta, akhir pekan ini. “Ekspor yang melambat sudah kita ketahui dari berita naiknya angka pengangguran di Eropa dari 10,3% menjadi 10,4% dan Spanyol sebesar 22%,” ucapnya.
Meningkatnya angka pengangguran tersebut, katanya, akan menurunkan permintaan. Penurunan permintaan juga akan diikuti dengan penurunan ekspor Indonesia. “Namun, jika turunnya ekspor kita diikuti dengan penurunan impor maka kita masih bisa bertahap dengan surplus di akhir tahun ini sebesar US$20 miliar-US$22 miliar,” jelasnya.
Kontribusi neraca perdagangan ke GDP Cuma 3%. “Ini belum membuat saya menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi masih di kepala 6% meski ekspor turun, tapi impor juga turun sehingga masih terjaga,” tutur Tony yang juga Komisaris Independen PT Bank Permata Tbk.
Terkait rupiah, Tony menjelaskan, akan berada di kisaran Rp8.800-Rp9.100 per US$. “BI (Bank Indonesia) harus ada intervensi kalau rupiah di bawah Rp8.800/US$. Jangan sampai BI membiarkan rupiah menguat. Harus ada rentang yang reasonable dan menjaga volatilitas rupiah. Kalau bisa di jaga di level itu sangat baik. Investor juga merasa nyaman dan akan baik juga untuk semua,” terangnya. [mel]