Sabtu, 20 Desember 2014 | 01:07 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah Inilah REVIEW Edisi Ke-23
Bunga Deposito Indonesia Paling Tinggi
Headline
IST
Oleh:
ekonomi - Senin, 6 Februari 2012 | 15:45 WIB
Berita Terkait

BILA ingin membandingkan suku bunga deposito di antara negara ASEAN, bunga deposito di Indonesia termasuk yang paling tinggi. "Malaysia dan Thailand itu sudah lebih efisien. Kita bandingkan saja dengan Filipina yang mirip-mirip, deposit rate di sana itu 3%, padahal inflasi 4,5%," kata Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution.

Menurut catatan Bank Indonesia, akhir tahun lalu suku bunga deposito di bank persero untuk jangka 6 bulan 6,62%, Bank Pembangunan Daerah 8,39%, bank swasta nasional 7,47%, bank asing dan campuran 6,63%, dan bank umum 7,37%.

Tingginya bunga deposito membuat bunga pinjaman menjadi mahal. Seharusnya bunga kredit bisa turun karena Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 6%. "Saat ini suku bunga kredit rata-rata di atas 12%. Walau ada beberapa bank yang sudah 10%,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad. Itu artinya ada selisih antara bunga kredit dengan bunga deposito sampai 6%.

Jarak antara BI Rate dan bunga kredit saat ini tinggi. Idealnya hanya selisih 3%. Jika BI Rate 6%, bunga kredit seharusnya di posisi rata-rata 10%. Faktanya selisihnya 5% lebih. Apalagi suku bunga kredit untuk UMKM, selisih suku bunga bisa mencapai 10%.

Dengan selisih yang begitu tinggi, perbankan nasional memperoleh keuntungan paling besar di antara negara-negara ASEAN. Tengok saja, tingkat return on asset (ROA) industri perbankan pada September 2011 mencapai 3,11%. Lebih tinggi dari rata-rata negara-negara ASEAN yang hanya mencapai 1,14%.

Celakanya, kondisi efisiensi perbankan nasional tak menggembirakan. Rasio BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional) mencapai 87,22%. Ini terbilang tinggi karena rasio BOPO di kawasan ASEAN berada antara 40%-60%. Jelas saja, karena tidak efisien suku bunga kredit menjadi tinggi.

Industri perbankan Indonesia juga sudah sangat prudent, tecermin dari rasio kecukupan modal (CAR) perbankan yang mencapai 16,7% dan rasio non-performing loan (NPL) yang hanya 2,7% (gross) pada September 2011.

Kedua faktor tersebut--keuntungan dan kesehatan--ditambah dengan iklim persaingan seharusnya tidak menjadi penghalang bagi bank untuk menurunkan suku bunga.

Beberapa ekonom menilai, penyebab kondisi tersebut lantaran struktur perbankan nasional yang oligopoli. “Tapi keadaan ini harus kita lawan,” kata Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Anggito Abimanyu. Misalnya, BI bisa mengatasinya lewat kebijakan moneter atau pemerintah menggunakan bank-bank BUMN.

Menurut Anggito, BI bisa mengeluarkan kebijakan moneter berupa, penempatan dana bank di instrumen BI. Seharusnya, BI secara bertahap mengembalikan ekses likuiditas ke perbankan untuk mereka kelola sendiri. Strategi ini tentu memperhitungkan tugas bank sentral menjaga kondisi makro dengan mengetatkan atau melonggarkan likuiditas.

Setelah bank tidak memiliki banyak pilihan ke mana memarkir dana berlebih, bank berpikir keras untuk mengelolanya. Pilihannya tidak banyak: menyalurkan ke kredit dan pasar uang atau mengurangi dana pihak ketiga (DPK). Kedua-duanya berefek ke bunga

Jika menggenjot kredit atau menyalurkan dana ke Pasar Uang Antarbank (PUAB), bank yang overlikuidakan menurunkan bunga pinjaman agar cepat terserap pasar. Jika bank besar menurunkan bunga, bank lain pasti akan mengikuti

Jika mengurangi DPK, bank akan menurunkan bunga simpanan. Sikap jual mahal ini memacu bank lain menurunkan bunga sehingga struktur biaya bank menjadi lebih baik.

“Jadi, bunga kredit tinggi bisa dilawan dengan segenap cara. Persoalannya, sejauh mana BI mengarahkan industri dan secerdas apa pemerintah memanfaatkan empat bank miliknya, “ kata Anggito.

Laporan selengkapnya mengenai deposan kakap ini dapat disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-23 yang terbit 6 Februari 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER