Kamis, 17 Mei 2012 | 06:34 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Menangkap Pesan Bank Dunia
Headline
IST
Oleh: Herdi Sahrasad
ekonomi - Kamis, 9 Februari 2012 | 06:49 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pekan ini, Wakil Presiden Bank Dunia baru untuk Asia Timur dan Pasifik Pamela Cox memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat serta komitmen negara ini terhadap reformasi institusional.

Ekonomi Indonesia dapat tetap tumbuh sekalipun kondisi dunia sedang tidak bagus seiring dengan krisis utang yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Lalu, apa tantangan yang kita hadapi?

Ekonomi Indonesia memang tumbuh, namun makin menjauh dari kemandirian ekonomi. Bayangkan, 53 persen garam, 60 persen kedelai, 30 persen daging, dan 70 persen susu harus diimpor. Akibatnya, meskipun rata-rata inflasi sepanjang 2005-2010 dapat ditekan, harga beras naik 120 persen, kedelai 85 persen, telur 100 persen, cabai 120 persen, daging 90 persen, dan jagung 700 persen! Inilah inflasi riil yang dibayar oleh masyarakat.

Sesungguhnya, menurut ekonom Ahmad Erani Yustika yang juga guru besar FE-Universitas Brawijaya, ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi yang merebak di masyarakat sudah meledak sejak krisis ekonomi 1997/1998. Sehingga menjadi babak baru kisah negara ini yang harus mengeluarkan lebih dari Rp 600 triliun untuk mengongkosi (bail out) perusahaan dan perbankan yang bangkrut, diteruskan lagi kasus Bank Century.

Ahmad Erani Yustika juga mengungkapkan bahwa angka pengangguran terbuka diberitakan terus turun, tetapi rakyat dibiarkan berjuang mencari penghidupan di sektor informal karena 65 persen dari total angkatan kerja berada di sektor informal. Pola yang sama terjadi pada data kemiskinan. Semua ini menunjukkan kinerja pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial masih gagal.

Paradoks terakhir, ilusi modernisasi lewat proyek industrialisasi. Transformasi ekonomi telah berjalan sejak dekade 1980-an, yang menggeser peran sektor pertanian setahap demi setahap, digantikan dengan sektor industri dan jasa. Namun, seperti halnya liberalisasi ekonomi era Orde Baru, transformasi ekonomi melangkah di atas kealpaan-kealpaan yang kasatmata. Keterampilan dan pendidikan tenaga kerja yang keropos, praktik mafia ekonomi yang menjamur dan ekonomi yang rapuh.

Namun demikian, di masa yang penuh ketidakpastian ini, pertumbuhan Indonesia yang dipenuhi banyak pekerja dan professional ulet menjadikannya salah satu titik cerah di dunia. Kembalinya Indonesia ke peringkat investasi diharapkan dapat menarik investasi di bidang infrastruktur, sehingga tercipta lapangan kerja dan pertumbuhan inklusif yang lebih bermanfaat bagi warga Indonesia.

Tak heran jika Bank Dunia menyatakan siap untuk terus bekerjasama dengan Indonesia dalam mengatasi tantangan pembangunan tersebut. Untuk itu, KKN harus dibasmi secara efektif, dan infrastruktur harus dikembangkan, semua itu penting untuk mendukung iklim usaha yang memadai. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.