INILAH.COM, Jakarta - Penurunan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75% sebagai antisipasi perlambatan ekonomi Indonesia sejalan dengan melambatnya negara tujuan ekspor.
"Kebijakan ini sifatnya antisipatif terhadap resiko potensi pelambatan ekonomi Indonesia sejalan dengan melambatnya negara-negara tujuan ekspor. Kebijakan ini lebih berfokus pada bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya resiko inflasi dalam negeri terkait kebijakan tarif dasar listrik dan energi," ujar Kepala Riset PT Henan Putihrai, Felix Sindhunata, saat dihubungi INILAH.COM, Kamis (9/2).
Sementara itu, Kepala Riset PT Sinarmas Sekuritas, Jeff Tan mengatakan,penurunan BI Rate ke level 5,75% karena BI memberikan indikasi atau sinyal pemerintah belum akan membatasi ataupun mengurangi subsidi BBM dalam waktu dekat ini.
Menurut Jeff, BI cukup kuatir terhadap dampak negatif dari memburuknya situasi eksternal terutama berhubungan dengan krisis ekonomi di Eropa. Tetapi penurunan BI Rate akan berdampak positif ke ekonomi secara makro. "Makro yang sehat juga akan menurunkan non performing loan (NPL), dan juga menaikkan pertumbuhan kredit seiring dengan naiknya risk taking behavior," kata Jeff.
Selain itu, penurunan BI Rate diharapkan dapat mendorong kreditor untuk meminjam dalam waktu panjang.
Assistant Vice President-Analyst Sovereign Risk Group Moody's, Christian de Guzman menuturkan, penurunan BI Rate tidak membawa dampak banyak bagi Indonesia untuk jangka pendek."Saya pikir dampaknya tidak terlalu banyak, tergantung bagaimana BI manage ekonomi untuk jangka panjang, untuk pertumbuhan inflasi saya rasa ke depan masih under control," tutur Christian.
Hari ini, Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dari level sebelumnya di 6%. [hid]