INILAH.COM, Jakarta - Moody's Investors Service menilai peningkatan rating utang Indonesia belum berdampak signifikan terhadap rating korporasi Indonesia dalam jangka pendek.
Demikian seperti dikutip dari keterangan yang diterbitkan Kamis (9/2). Menurut Senior Credit Officer Corporate Finance Moody's Investors Service, Alan Greene, peningkatan rating utang secara tidak langsung akan mendorong foreign direct investmen (FDI) meningkat dan menambah portofolio baru investor.
Tetapi negara dan pasar berkembang meskipun telah mendapatkan peningkatan rating masih menemui kendala seperti infrastruktur yang kurang dan kebijakan tidak pasti.
Alan menilai, beberapa korporasi Indonesia telah masuk dalam kriteria investment grade tetapi berhubungan dengan metodelogi Moody's hal tersebut masih terdapat kelemahan. Kelemahan tersebut berkaitan dengan bisnis dan keuangan perusahaan.
"Kelemahan itu terkait dengan tidak ada difersifikasi bisnis dan produk serta terbatasnya tempat operasi. Selain itu, kelemahan berkaitan dengan keuangan di mana perusahaan mencatatkan margin baik tetapi mengalami cash flow dan likuiditas lemah," kata Alan.
Dalam keterangan yang menjelaskan, perusahaan di Indonesia juga menghadapi kebijakan luar yang tidak pasti seperti kebijakan pemerintah dan resiko regulator. Sedangkan kebijakan internal yang mempengaruhi perusahaan antara lain keinginan manajemen untuk melakukan merger dan akuisisi serta investasi berisiko. Struktor modal dan komoditi turut mempengaruhi perusahaan.
Baru-baru ini Moody's telah memberikan outlook positif untuk PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan rating Ba1 dan PT Indika Energy Tbk dengan rating B1 pada 1 Februari 2012. [hid]