Find and Follow Us

Rabu, 16 Oktober 2019 | 15:54 WIB

Majalah Inilah REVIEW Edisi Ke-25

Inilah Para Cucu Konglomerat

Oleh : Latihono Sujantyo dan Iwan Pur | Senin, 20 Februari 2012 | 13:45 WIB
Inilah Para Cucu Konglomerat
inilah.com
facebook twitter

LIEM Sioe Liong, Mochtar Riady, atau Eka Tjipta Widjaja, kini lebih asyik duduk manis melihat anak-anak atau cucu-cucu mereka mengelola bisnis yang didirikannya puluhan tahun lalu.

Kalau Liem Sioe Liong alias Sudono Salim punya Antony Salim atau Mochtar Riady punya James Riady, kini generasi ketiga dari keluarga para taipan ini sedang bersiap menerima estafet kepemimpinan. Tentu saja gaya kepemimpinan para cucu ini berbeda dengan gaya pendahulunya. Sebab, mereka kebanyakan mengenyam pendidikan di luar negeri.

Inilah generasi ketiga dari beberapa konglomerat di Indonesia.

Axton Salim

Usianya relatif muda, namun posisinya di Salim Grup, cukup strategis. Dia adalah Axton Salim, putra dari Anthony Salim yang disebut-sebut penerus Salim Grup.

Peraih gelar Bachelor of Science Business Administration dari University of Colorado, Amerika Serikat itu, menjalani lelaku bisnis sebegai karyawan Credit Suisse, Singapura.

Baru 2004, Axton masuk Indonesia dan dipercaya sebagai Marketing Manager PT Indofood Fritolay Makmur. Dua tahun berselang, dia dipromosikan sebagai asisten CEO Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Mendampingi sang ayah, Anthony Salim yang menjabat President & CEO Indofood.

Talenta bisnis Axton terasah secara alamiah. Ini membuat Anthony Salim semakin yakin akan pilihannya. Alhasil, Axton dibebani tanggung jawab baru sebagai direktur Indofood Agri Resources Ltd, sejak 23 Januari 2007.

Belum genap setahun, dia ditunjuk sebagai Non-Executive Director untuk Indofood Agri Resources Ltd. Selanjutnya, dipercaya menjadi komisaris PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Tbk (LSIP). Posisi penting lainnya, komisaris PT Salim Ivomas Pratama, Non-Executive Director PT Indolakto and Pacsari Pte Ltd.

Daniel Halim

Nama lainnya, Daniel Halim adalah cucu Sudono Salim dari Andree Halim. Pria muda itu, dipercaya untuk mengelola investasi Salim Grup di Asia Tenggara. Saham Salim Grup tertanam di Singfood Investment Pte. Ltd. dan Tian Wan Enterprises Co. Ltd.

Tian Wan Enterprises Company Limited adalah perusahaan yang menjadi pemegang saham mayoritas di QAF Ltd. Selain itu, Daniel Halim mulai dipercaya sebagai executive director di Peaktop International Holdings Limited--salah satu perusahaan konsumsi yang diakuisisi Salim pada 2005.

Selain di Peaktop, Daniel juga menduduki jabatan direktur di Zhongguo Jilong Ltd, pemegang saham melalui Singfood Investment Pte Ltd. Saat ini, Daniel tercatat sebagai direktur Zhongguo Jilong Ltd.

Michael Riady

Ada dua nama yang santer disebut-sebut sebagai pewaris tahta bisnis di Grup Lippo yakni Michael Riady (29) dan John Riady (23). Keduanya merupakan putra James Riady dan cucu dari pendiri Grup Lippo, Mochtar Riady.

Saat ini, Michael menjabat sebagai Presiden Direktur St Moritz Penthouses Residences. Proyek properti fenomenal yang tengah digarapnya adalah St Moritz Penthouses and Residences. Nilainya tak main-main, lebih dari Rp 11 triliun.

John Riady

Satu lagi pangeran muda Lippo Grup adalah John Riady. Dia adalah putra kedua James Riady. Pria yang baru berusia 23 itu, tercatat sebagai lulusan Georgetown University.

Masuk Grup Lippo pada 2007, John mengelola konten dan pemasaran Globe Asia. Sebelumnya, John sempat mengenyam pengalaman sebagai bankir di Stephen Inc, Little Rock-Arkansas, AS.

Generasi Djarum

Di Grup Djarum, muncul tiga nama yang digadang-gadang menjadi penerus, generasi ketiga. Mereka adalah Alaric Armand Hartono, Victor Rachmat Hartono, dan Martin B. Hartono. Ketiganya dipersiapkan untuk menggantikan Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.

Setelah menyelesaikan kuliah di Columbia University jurusan political philosophy dan industrial engineering pada 2004, Armand pulang ke Indonesia.

Oleh sang ayah, Budi Hartono, Armand sudah diplot untuk mengelola investasi Grup Djarum di PT Bank Central Asia Tbk. (BCA). Naga-naganya, putra bungsu Budi Hartono itu akan memimpin BCA.

Sedangkan dua nama lainnya, Victor Rachmat Hartono dan Martin B Hartono, dipersiapkan untuk menjadi pemegang kendali di PT Djarum, yang selama ini menjadi mesin uang Grup Djarum.

Saat ini, Victor menjabat sebagai chief operating officer (COO) PT Djarum, sementara, Martin dipercaya menjadi direktur HRD PT Djarum.

Michael Jackson

Di antara sekian banyak cucu pendiri Sinar Mas Grup, Eka Tjipta Widjaja, nama Michael Jackson Purwanto Widjaja yang paling banyak digadang bakal menduduki posisi puncak.

Michael adalah putra Mukhtar Widjaja. Dia sempat mengecap pendidikan di University of Southern California. Usai mendapat gelar bachelor, Michael bekerja sebagai karyawan biasa di Top Tier Trading dan EuroRev Inc, Los Angeles.

Ketika pulang kampung, dia langsung menduduki posisi penting. Sebagai vice president director PT Duta Pertiwi Tbk dan PT Bumi Serpong Damai Tbk. Kini, Michael adalah vice president director Asia Food & Property Ltd.

Di samping Michael, ada beberapa calon penerus bisnis Sinar Mas Grup, antara lain Ivena Widjaja, Eric Oei Kang, Oei Wikawi, dan Jackson Wijaya Limantara. Semuanya bisa disebut sebagai generasi ketiga Sinar Mas Grup.

Anindya Bakrie

Kelompok bisnis Grup Bakrie yang didirikan Achmad Bakrie pada 10 Februari 1942, memasuki generasi ketiga. Saat ini, Aburizal Bakrie mulai ancang-ancang meninggalkan dunia bisnis. Sebagai pengganti, dia sudah punya pilihan yakni Anindya Novyan Bakrie.

Talenta bisnis Anin sudah terlihat sejak muda. Wajar bila pria yang usianya belum genap 38 tahun ini, dipercaya menjadi CEO Bakrie Telecom dan Visi Media Asia (ANTV, tvOne, dan VIVAnews).

Sebenarnya, Aburizal sudah mencium bakat bisnis alumni Stanford Graduate School of Business Stanford, California itu, sejak lama. Khususnya Anin menangani ANTV yang hampir bangkrut di 2002. Dua tahun di tangannya, ANTV bebas dari utang.

Tangan dingin Anin di Bakrie Telecom (BTEL), cukup manjur. Semula pelanggannya 100 ribuan, sekarang bisa didongkrak sampai puluhan kali lipat.

Selain bisnis, Anin memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi. Dia pun dipercaya memimpin sejumlah yayasan milik Bakrie di bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan. Misalnya Yayasan Bakrie Untuk Negeri (BUN), Bakrie Center Foundation, Yayasan Pendidikan Bakrie dan Bakrie learning Center.

Solichin Jusuf Kalla

Bisnis Grup Kalla merupakan warisan orang tua Jusuf Kalla yakni H Kalla dan Hj Athirah Kalla. Berdiri dengan nama NV Hadji Kalla pada 18 Oktober 1952. Bisnis trading awalnya berpusat di Watampone dan Makassar.

Mulai 1982, NV Hadji Kalla memasuki generasi kedua di tangan Jusuf Kalla. Di kawasan industri timur, Grup Hadji Kalla mengalami perkembangan pesat. Bidang usaha yang digeluti otomotif, perdagangan, konstruksi, infrastruktur sampai pembangkit listrik.

Sebagai penerus generasi ketiga, ada nama Solichin Jusuf Kalla. Pria yang akrab disapa Ihin ini, merupakan satu-satunya putra Jusuf Kalla. Dia adalah anak ke-empat dari lima bersaudara.

Usai menempuh pendidikan Bisnis Internasional di Pittsburg University, Amerika Serikat pada 1999, Ihin dipercaya menjadi direktur pengembanghan NV Hadji Kalla. Selanjutnya, Solichin menduduki posisi sebagai direktur PT Bukaka Lintastama, komisaris PT Bukaka Teknik Utama.

Laporan selengkapnya bisa disimak di majalah Inilah REVIEW edisi ke-25 yang terbit Senin, 20 Februari 2012. [tjs]

Komentar

x