Find and Follow Us

Minggu, 15 Desember 2019 | 19:55 WIB

Kasus Nasabah Kartu Kredit Citibank

Tuntutan JPU tak Berdasar Fakta

Rabu, 22 Februari 2012 | 19:06 WIB
Tuntutan JPU tak Berdasar Fakta
foto: Ilustrasi
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Tuntutan hukum terhadap terdakwa kasus nasabah kartu kredit Citibank dinilai tidak berdasarkan fakta pengadilan.

Hal ini disampaikan kuasa hukum para terdakwa, Wirawan Adnan yang menilai tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sungguh keterlaluan karena tidak didasarkan pada fakta persidangan dan persyaratan pembuktian. "JPU hanya mendasarkan pada BAP, padahal BAP tersebut di persidangan telah dicabut oleh para saksi," ujarnya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus Irzen Okta akhirnya mengajukan tuntutan 5 tahun untuk para terdakwa Humizar Silalahi dan Boy Tambunan. Sedangkan terdakwa Arif Lukman, Henry dan Donald secara bersama-sama dituntut 7 tahun penjara. Sidang penuntutan itu dibacakan secara bergantian oleh tim JPU di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (21/2/2012) lalu.

Dalam pertimbangan hukumnya, JPU menyatakan bahwa terdakwa Humizar dan Boy telah terbukti secara sah dan menyakinkan telah membantu memberikan kesempatan, sehingga terdakwa Arif Lukman dapat melakukan perampasan kemerdekaan hingga mengakibatkan kematian pada Irzen Okta.

Menurut Wirawan, JPU berdalih, saksi penyidik telah dihadirkan di persidangan, dan menyangkal telah melakukan penekanan pada para saksi. "Ini tidak masuk akal. Jika saksi mengatakan telah dipaksa oleh penyidik dan penyidik mengatakan tidak memaksa, mengapa yang dinilai benar adalah kata-katanya penyidik?" kata Wirawan.

Apalagi dalam persidangan sebelumnya, pengacara terdakwa telah membuktikan rekaman yang mengungkapkan adanya intimidasi penyidik kepada saksi. Adanya rekayasa dan pemaksaan BAP itulah yang mendasari pencabutan BAP oleh 20 saksi. Anehnya, JPU tetap ngotot menjadikan BAP sebagai bukti tertuluis untuk mengajukan penuntutatn. "BAP itu bukan bukti," kata Wirawan dengan geram.

Menurutnya, tampak dengan terang benderang, JPU hanya mengandalkan BAP untuk membuat tuntutan. "Jika BAP dianggap bukti dan JPU hanya mendasarkan pada BAP untuk apa ada persidangan?" ujar Wirawan.

Wirawan menilai, JPU juga telah mengabaikan fakta-fakta dalam persidangan. Sehingga seolah-olah, para saksi, terdakwa dan pengacara terdakwa tidak ikut bersidang. Pihak JPU hanya murni membacakan surat dakwaan, bukan keterangan yang diperoleh di persidangan. "Apa JPU tidak ikut menyaksikan ketika Penyidik Mei Astuti terbukti telah melakukan penekanan ketika hasil rekaman diputar dipersidangan. Apakah JPU sedang tidur, ketika saksi Tubagus terang-terangan telah berbohong di persidangan. Tuntutan JPU sungguh ngawur," ungkap Wirawan.

Sidang akan kembali digelar Selasa pekan depan untuk mendengarkan eksepsi terdaksa. Tim pengacara terdakwa, kata Wirawan, akan membongkar rekayasa kasus ini oleh penyidik hingga JPU dalam sidang pembacaan eksepsi nanti.

[cms]

Komentar

Embed Widget
x