Find and Follow Us

Minggu, 8 Desember 2019 | 00:30 WIB

Majalah Inilah REVIEW Edisi Ke-26

Mendobrak Tradisi Bank Dunia

Oleh : Ali Sindoluhur | Senin, 27 Februari 2012 | 15:07 WIB
Mendobrak Tradisi Bank Dunia
IST
facebook twitter

NEGARA-negara berkembang ingin mendobrak tradisi jabatan presiden Bank Dunia yang selalu diduduki warga Amerika Serikat. Salah satu nama kandidat yang muncul adalah Sri Mulyani Indrawati.

Setelah lima tahun menduduki kursi presiden Bank Dunia, Robert Zoellick secara resmi mengumunkan pengunduran diri dari jabatannya per 30 Juni mendatang. "Saya sangat bangga telah diberi kepercayaan memimpin sebuah institusi kelas dunia berisikan orang-orang yang sangat luar biasa berbakat," kata Zoellick.

"Bank Dunia kini berada dalam posisi yang kuat menghadapi berbagai tantangan baru dan karena itu menjadi saat yang tepat bagi saya untuk mengakhiri masa jabatan dan mendukung kepemimpinan baru," imbuhnya.

Pengumuman pengunduran diri ini langsung menimbulkan gesekan antara Amerika Serikat dan negara-negara berkembang untuk menduduki pos strategis tersebut. Hanya berselang empat jam setelah Zoellick mengumumkan mundur, Menteri Keuangan AS Timothy F Geithner lewat surat elektronik memberi sinyal bahwa AS akan tetap mempertahankan kursi itu.

"Sangat penting bahwa kita tetap memiliki kekuatan melalui kepemimpinan yang efektif dalam lembaga penting ini. Pilihan AS sesuai dengan pengalaman dan kualitas yang diperlukan untuk memimpin lembaga ini ke depan," ujar Geithner.

Rumor yang berkembang, AS menjagokan dua kandidat yaitu Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan mantan penasihat ekonomi White House Lawrence Summers. Namun, sejauh ini, dua jago Paman Sam ini masih enggan terbuka.Summers belum berkomentar hingga saat ini.

"Menlu (Clinton) telah membahas masalah ini berkali-kali sejak tahun lalu. Dia mengatakan ini tidak akan terjadi. Pandangannya tidak akan berubah," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Victoria Nuland.

Pihak Gedung Putih juga tidak mau mengkonfirmasi rumor dua kandidat tersebut. "Ada banyak sepekulasi yang muncul di kalangan pers. Saya tidak akan mengonfirmasi semua itu," kata juru bicara Presiden AS Barack Obama, Jay Carney.

Ada semacam hukum tidak tertulis bahwa jabatan Direktur Dana Moneter Internasional (IMF) itu selalu dari Eropa, dan Presiden Bank Dunia berasal dari AS. Hal ini terjadi berkat sebuah perjanjian tidak tertulis antara kekuatan Eropa dan Amerika Serikat ketika kedua lembaga yang berbasis di Washington itu diluncurkan pada 1945.

NEGARA BERKEMBANG

AS boleh saja sibuk mempersiapkan calon pengganti Zoellick. Namun, kali ini negara-negara anggota Bank Dunia tidak berdiam diri. Mereka mulai gerah dengan dominasi AS. Sejumlah negara mulai buka suara soal dominasi negara Paman Sam pada institusi keuangan dunia tersebut.

Pejabat Brazil dan Meksiko bahkan bersumpah membuat proses seleksi presiden ini terbuka bagi pasar negara berkembang dan mendorong kemungkinan munculnya presiden bank dunia dari luar AS. "Tidak ada alasan seorang pemimpin utama harus berasal dari negara tertentu. Negara-negara emerging markets punya hak untuk memimpin Bank Dunia," tegas Menteri Keuangan Brazil Guido Mantega.

Sementara itu, Gubernur bank sentral Meksiko, Agustin Carstens, menegaskan kembali sentimen itu dengan mengatakan presiden Bank Dunia harus dipilih berdasarkan prestasi bukan "aturan yang dibuat-buat". Cartens tahun lalu juga mengajukan diri sebagai calon direktur pelaksana IMF bersama Christine Lagarde, namun upayanya gagal. Yang terpilih akhirnya Lagarde.

Hal senada juga dikemukakan juru bicara Menteri Luar Negeri China, Liu Weimin. "Seleksi pemimpin Bank Dunia itu harus berdasarkan prinsip prestasi. Kompetisi harus dibuka kepada semua pihak," katanya.

Negara-negara berkembang kini mulai merapatkan barisan. "Sebagai bukti (melawan dominasi AS), negara berkembang akan mengajukan beberapa calon," kata Uri Dadush, Direktur Ekonomi Internasional pada Carnegie Endowment for International Peace.

"Sudah saatnya bagi AS untuk mengumumkan bahwa ia tidak akan lagi berusaha untuk memonopoli posisi presiden Bank Dunia," kata sebuah kelompok LSM, Proyek Bretton.

PENCALONAN

Bank Dunia sudah membuka pencalonan hingga 23 Maret 2012. Pencalonan dapat dilakukan oleh anggota dewan eksekutif atau anggota dewan gubernur melalui direktur eksekutifnya. Seorang calon harus berasal dari salah satu negara anggota Bank Dunia.

Setelah proses pencalonan ditutup, dewan eksekutif akan membentuk daftar berisikan maksimum tiga nama, lalu mempublikasikan daftar tersebut dengan persetujuan ketiga nama yang bersangkutan. Selanjutnya dewan eksekutif akan mewancarai ketiga calon dengan harapan bisa mencapai konsensus sebelum pertemuan tahunan musim semi pada April 2012.

Sejauh ini, ada tiga kandidat kuat sebagaimana pernah disebutkan Robert Zoellick. Mereka adalah direktur pelaksana Bank Dunia saat ini, Sri Mulyani Indrawati (Indonesia), Mahmoud Mohieldin (Mesir), dan Caroline D. Anstey (Inggris). Namun, dilihat dari kewarganegaraan, tiga orang tersebut tidak memenuhi "kriteria tak tertulis".

Meski begitu, merujuk pada proses pemilihan presiden yang disetujui Dewan Direksi Bank Dunia pada April 2011, tiga orang tersebut cukup kuat menggantikan Zoellick karena sudah malang melintang di dunia perbankan. Dewan Direksi Bank Dunia dalam pernyataan bersama mengungkapkan seleksi pemilihan presiden bersifat terbuka dan transparan serta didasarkan pada prestasi dan kinerja.

Sejumlah kriteria antara lain rekam jejak kepemimpinan, berpengalaman di sejumlah organisasi internasional, kemampuan untuk mengartikulasikan visi Bank Dunia, berkomitmen terhadap kerja sama multilateral, dan memiliki keahlian komunikasi diplomasi yang efektif.

Selain tiga nama tersebut, Perdana MenteriBangladesh Sheikh Hasinamencalonkanpemenang Nobel Muhammad Yunussebagai kandidat presiden Bank Dunia. "Perdana Menteri (Sheikh Hasina) telah meminta Uni Eropa mendukung Dr Yunus sebagai presiden Bank Dunia," tutur seorang pembantu senior Hasina yang tak mau disebut namanya.

Komentar

Embed Widget
x