Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 11:55 WIB

Kiat CEO Atasi Pembajakan HAKI di China

Oleh : Aza | Rabu, 7 Maret 2012 | 18:24 WIB

Berita Terkait

Kiat CEO Atasi Pembajakan HAKI di China
IST

INILAH,COM, Jakarta - Pembajakan merupakan industri terbesar di Asia, termasuk Indonesia dan China. Meski kedua negara tersebut membenahi Undang-undang perlindungan hak atas kekayaan intelektual, terutama sejak ditekennya perjanjian World Trade Organization (WTO 2001), tapi di tingkat pelaksanaan masih terbilang lemah.

Lemahnya pelaksanaan UU Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), terutama di China, lantaran aturan perundangan masih kurang berakar. Lagi pula pembajakan menjadi sumber penting aktivitas ekonomi di banyak wilayah di negeri tirai bambu tersebut.

Maraknya pelanggaran hak cipta dan kekayaan intelektual inilah yang kerap membuat para investor di negeri China geram. Tapi, mereka sadar , upaya memerangi pelanggaran hak intelektual cuma akan menguras energi.

Pasalnya, tidak ada dukungan serius dari pemerintah (terutama pemerintah lokal) atas perkara pelanggaran HAKI. "Para petugas penegak hukum dan pelanggar hak atas kekayaan intelektual masih berhubungan, mereka bergantung satu sama lain," ujar David Chang, CEO Philips China.

Meski begitu, para pengusaha masih mencari celah menyelamatkan hak cipta dan intelektual perusahaan mereka. Hasilnya, belakangan sudah mulai kelihatan titik cerah. Mereka memiliki dua cara mengatasi pembajakan produk, yaitu: eksternal dan internal.

Kebijakan eksternal meliputi bekerjasama dengan pemerintah. Saat mendekati pemerintah China untuk meminta dukungan perlindungan HAKI, hindari pengambilan pendirian yang bersifat konfrontatif.

Kemudian menyatukan kekuatan dengan pihak lain seperti bekerjasama dengan bisnis dan asosiasi lain dalam perang melawan pelanggaran hak atas kekayaan intelektual. Sehingga bisa saling berbagi praktik terbaik dan menghadiran gerakan bersama ke pemerintah.

Sementara kebijakan internal meliputi, pertama, dedikasikan sumberdaya dengan membangun kesadaran dan dukungan untuk perlindungan property intelektual di seantero perusahaan. Kedua, fokus pada tindakan pencegahan perlunya disampakan pentingnya perlindungan property intelektual. Laksanakan audit properti intelektual di seluruh perusahaan guna mendeteksi wilayah-wilayah yang rentan. Ketiga, gunakan perlindungan kontraktual dan elektif memberikan akses pada para karyawan dan mitra bisnis kepada teknologi inti.

Keempat adalah melindungi teknologi yang sensitif dengan menciptakan mekanisme keselamatan untuk membatasi akses karyawan atau mitra kerja teknologi-teknologi penting, bila perlu tidak membawa teknologi yang sangat penting ke China.

Komentar

Embed Widget
x