Find and Follow Us

Rabu, 20 November 2019 | 13:54 WIB

Widjojo Nitisastro

Teknokrat Ulung itu Telah Tiada

Oleh : Th. Asteria | Jumat, 9 Maret 2012 | 15:59 WIB
Teknokrat Ulung itu Telah Tiada
Widjojo Nitisastro - inilah.com/Agus Priatna
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta Wafatnya begawan ekonomi Widjojo Nitisastro, seakan mengingatkan khalayak tentang kisah kaum teknokrat perancang kebijakan ekonomi era Orde Baru, yang dikenal dengan Mafia Berkeley.

Widjojo Nitisastro adalah tokoh penting dalam sejarah perekonomian Indonesia. Ia kerap disebut teknokrat generasi pertama yang meletakkan fundamental pembangunan ekonomi RI. Tentu saja, perannya tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dalam era Orde Lama yang dipimpin Presiden Soekarno, ekonomi Indonesia seakan tumpul. Pembangunan hampir tidak ada dan sumber daya alam tidak tersentuh.

Utang luar negeri pun membubung tinggi, mencapai sebesar US$2 miliar. Hingga pada akhir pemerintahannya, inflasi mencapai 600%. Hal ini disertai kondisi politik yang tidak stabil, dengan munculnya aksi G-30-S PKI.

Namun, dengan campur tangan kaum teknokrat Mafia Berkeley, ekonomi Indonesia mengalami perubahan. Mereka inilah yang menentukan dan bertanggungjawab atas transformasi ekonomi besar-besaran sejak pertengahan 1960, atau pada masa awal pemerintahan Presiden Suharto.

Kaum ini terdiri dari sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan lulusan Universitas Berkeley, Amerika Serikat. Meskipun mereka mungkin lebih tepat disebut Mafia UI-UGM, karena kebanyakan mengambil studi di Universitas Indonesia atau di Universitas Gadjah Mada.

Adapun istilah mafia muncul, karena pemikirannya sering dianggap bagian dari rencana CIA untuk membuat Indonesia sebagai negara boneka untuk Amerika. Hancurnya pasar dengan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di bawah Soekarno, kembali direformasi oleh kaum teknokrat ini. Mereka membuka pintu investasi lebar-lebar bagi penanaman modal asing. Demi memupuk kekuatan modal dalam negeri, investasi asing pun menjadi sangat krusial.

Para Mafia Berkeley yang digawangi Widjojo ini pun berhasil membawa Indonesia ke arah perubahan struktural yang cukup drastis. Buah kerja keras mereka adalah stabilisasi ekonomi, penurunan angka kemiskinan, ketersediaan pangan dan masuknya modal asing.

Lihat saja perbaikan ekonomi Indonesia yang cukup mengagumkan. Pada 1971-1981, ekonomi tercatat tumbuh 7,7% akibat lonjakan harga minyak mentah.

Namun, kebijakan-kebijakan ekonomi pasar mereka kian menjadi buah bibir yang sumir. Ini karena para ekonom Mafia Berkeley bersikap terlalu pro Barat. Sementara perkembangan ekonomi dalam negeri terpinggirkan dan sumber daya alam domestik kian dikuras.

Tak heran, bila nasionalisme kaum teknokrat dipertanyakan. Demikian pula eksistensi dan keterkaitannya dengan negara Barat. Widjojo dan kelompoknya pun kerap mendapat tudingan tajam.

Kini, seiring pergantian jaman dan berakhirnya masa orde baru, para ekonom baru dengan pemikiran lebih plural, mulai bermunculan. Para penggagas kebijakan ekonomi di masa awal pembangunan, seperti Mafia Berkeley, banyak yang mundur. Salah satunya Widjojo, yang baru saja menutup mata.

Pahit manis sepak terjang para Mafia Berkeley dalam membangun Indonesia, memang merupakan bagian dari sejarah dan tak dapat terlupa. Meskipun tidak dapat diabaikan juga segala konsekuensinya. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x