Find and Follow Us

Rabu, 20 November 2019 | 13:15 WIB

Majalah Inilah REVIEW Edisi Ke-28

Utang Lagi, Utang Lagi

Oleh : Latihono Sujantyo | Senin, 12 Maret 2012 | 17:54 WIB
Utang Lagi, Utang Lagi
inilah.com
facebook twitter

PEMANGKASAN subsidi bahan bakar minyak (BBM), listrik, serta pemangkasan belanja kementerian dan lembaga, tak membuat APBN-P 2012 lolos dari ancaman defisit. Bahkan angka tekor APBN-P 2012 diyakini akan membengkak menjadi 2,23%. Kekurangan itu, rencananya akan ditutup dengan sisa anggaran dan penerbitan surat utang baru atau surat berharga negara (SBN) senilai Rp 50 triliun.

Kepastian menerbitkan surat utang baru itu muncul, karena defisit APBN-P 2012 yang 2,23% mencapai nilai Rp 50 triliun. Sementara dana sisa lebih penghitungan anggaran atau Silpa, hanya sebesar Rp 39,2 triliun. Itu pun jika belum dialokasikan untuk pos-pos pengeluaran lainnya.

Urusan utang baru inilah yang mencemaskan banyak kalangan. Sekjen PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo, termasuk yang geram. "Persoalannya utang itu tidak dirasakan oleh rakyat. Infrastruktur jelek, listrik byar pet, sekolah mahal, biaya kesehatan tinggi, subsidi mau dicabut, lantas utang-utang itu ke mana larinya?" tanya Tjahjo.

Seperti halnya Tjahjo, Ketua Komisi XI DPR, Emir Moeis juga tak setuju dengan penambahan utang baru ini, apalagi untuk menutup defisit. Sebab, kata Emir, peningkatan defisit bisa ditutup lewat sisa anggaran belanja kementerian/lembaga yang belum terserap optimal di tahun sebelumnya.

"Kita semua tahu, sisa anggaran masih banyak. Wong penyerapan anggarannya masih di bawah 90% kok. Untuk apa harus defisit-defisit, terus jual SUN, jual ORI. Ujung-ujungnya enggak kepake lagi duitnya, sementara kita dibebani bunga yang harus dibayar," ujarnya.

Dari tahun ke tahun, utang pemerintah terus membengkak. Di awal tahun ini saja, total utang pemerintah telah mencapai Rp 1.837,39 triliun. Itu berarti, sepanjang 2011, telah terjadi penambahan sebesar Rp 33,9 triliun. Sementara dalam APBN 2012, pemerintah telah merencanakan penerbitan SBN netto senilai Rp 134,5 triliun.

Kalau melihat gelagat seperti ini, jelas, target rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 22%, pada tahun 2014, akan semakin sulit dicapai. Sebab, hingga Januari 2012 saja, rasio itu sudah berada di level 25%.

Selain itu, yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah semakin besarnya cicilan dan bunga yang harus dibayar setiap tahun. Tahun ini saja, bunga dan pokok cicilan yang jatuh tempo mencapai Rp 261,8 triliun.

Itulah yang membuat anggaran pembangunan makin menciut. Sebab, kendati rasio utang terhadap PDB terus menurun, toh nilai nominal yang harus dibayar terus membengkak.

Ini tentu saja mengkhawatirkan. Ekonom Indef Ahmad Erani Yustika mengingatkan, jika utang terus membengkak, Indonesia bakal makin terperangkap dalam jebakan pinjaman. "Lama-lama Indonesia tersandera utang," katanya.

Erani mengatakan, pemerintah harus ekstra ketat dalam mengelola anggaran negara. Artinya, jangan terlalu mengandalkan utang dalam pengelolaan APBN. Caranya, gali sumber pendapatan dalam negeri, misalnya pajak dan sumber pendapatan lain.

Bisa tidak?

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-28 yang terbut, Senin 12 Maret 2012.

Komentar

Embed Widget
x