Sabtu, 29 November 2014 | 11:44 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Reformasi Ekonomi China Tak Bisa Ditunda Lagi
Headline
Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang - zimbio.com
Oleh: Bachtiar Abdullah
ekonomi - Senin, 19 Maret 2012 | 12:51 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Beijing – China tidak bisa lagi mengulur-ulur reformasi ekonominya, ujar Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang, Minggu (17/3), menanggapi pernyataan seorang pemimpii tingkat provinsi yang ambisius dan menginginkan agar pemerintah lebih berperan dalam perekonomian.

Li banyak diharapkan masyarakat China daratan menjadi pengganti PM Wen Jiabao tahun ini. Ia menjanjikan kebijakan yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi kuat dan harga-harga yang stabil, dengan cara meningkatkan permintaan domestik dan mengarah pada reformasi struktural agar pertumbuhan stabil dan berimbang.

“China telah mencapai periode penting dalam mengubah model ekonominya dan perubahan itu tidak bisa lagi ditunda. Reformasi sudah memasuki tahap yang keras,” ujar Li yang menggemakan pernyataan Wen Jiabao pekan lalu

“Kita akan membuat kebijakan-kebijakan yang lebih terarah, luwes dan bervisi ke depan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan menstabilkan harga-harga barang,” ujar Li dalam pidatonya di muka para pejabat China, pemimpin IMF dan lusinan pemimpin bisnis dunia pada konferensi ekonomi China di Beijing pekan lalu.

Ia menyatakan bahwa China akan mereformasi pajak secara mendalam, sektor finansial, harga, distribusi pendapatan dan mendorong pasar memainkan peran dalam pengalokasian sumberdaya.

PM Wen dalam Kongres Rakyat China mengatakan, pertumbuhan ekonomi China akan lebih tahan terhadap tekanan asing, naiknya harga properti domestik dan naiknya inflasi, serta naiknya utang yang dibuat pemda-pemda. China juga akan mulai menggalakkan perubahan politik.

Wen juga memangkas pertumbuhan China menjadi 7,5 persen tahun ini, menurun dari target semula 8,0 persen selama delapan tahun berturut-turut. Menurut Wen, penurunan pertumbuhan ekonomi (PDB) China dimaksudkan mereformasi ekonomi China terhadap ketergantungan subsidi tanpa memicu inflasi.

Tingkat inflasi China pada Februari cukup adem, menjadi 3,2 persen, yang berarti lebih rendah dari target pemerintah sebesar 4 persen. Namun para pembuat kebijakan masih was-was menaikkan harga-harga komoditi, karena China sangat besar ketergantungannya terhadap impor bahan baku.

Zhang Ping, seorang anggota Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (semacam Bappenas), menyatakan bahwa kebijakan ekonomi China tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang relatif cepat yang bakal menentukan masa depan negara itu. “Pertama-tama, kita perlu mempertahankan pertumbuhan ekonomi China yang mantap dan cepat ini, karena pembangunan adalah kunci memecahkan semua masalah, “ungkap Zhang.

Menurut Zhang, pemerintah China akan mempertahankan kebijakan fiskal dan moneter yang berhati-hati namun samapta menyesuaikan diri dengan perkembangan. Pernyataannya itu mengulang statemen para pemimpin China pada musim semi 2011.

Pemerintah China tampak serasi mengatur langkah menuju masa depan perekonomiannya menjadi lebih kuat. Sementara di Indonesia mesti bertanya ulang terhadap diri sendiri, apakah terus mau digerogoti kepentingan orang-orang tertentu atau para politisi aneka partai ataukah bisa meletakkan kepentingan rakyat di atas yang lain? Mari. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER