INILAH.COM, Jakarta - Inflasi diperkirakan mencapai 6,6-7,1% pada 2012 bila pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan, apabila ada perubahan kebijakan harga BBM subsidi maka inflasi diperkirakan bertambah 2,2%-2,7%, tergantung skenario yang diambil oleh pemerintah.
Pertama, bila harga BBM subsidi naik Rp1.500 dan kedua, subsidi per liter dari BBM bersubsidi ditetapkan sebesar jumlah tertentu per liter subsidinya Rp2.000.
"Inflasi akan bertambah 2,2-2,7 persen, tergantung skenario yang mana yang akan diambil. Sehingga kalau ada kebijakan perubahan harga BBM, kita perkirakan inflasi 2012 berkisar 4,4 persen ditambah 2,4 persen sama dengan 6,6 persen. Dengan 4,4 persen ditambah 2,7 persen, maka 7,1 persen," jelas Darmin, dalam jumpa pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI periode kuartal I-2012, di Jakarta, Kamis (12/4/2012).
Ketika dikonfirmasi bila harga BBM subsidi tidak jadi naik, Darmin mengatakan, inflasi tahun ini akan berada di level 4,4%. Kendati demikian, hal tersebut sulit diperkirakan mengingat adanya ekspektasi di kalangan masyarakat, terkait penaikan harga BBM subsidi.
Hal ini, lanjutnya, berdasarkan survei yang dilakukan pada minggu pertama April tahun lalu, yang terjadi deflasi. Namun saat ini, pihaknya melihat adanya inflasi pada minggu pertama April 2012. Oleh karena itu, BI akan terus mewaspadai risiko peningkatan ekspektasi inflasi, terutama yang terkait dengan kebijakan harga BBM bersubsidi oleh pemerintah. [mre]