Selasa, 18 Juni 2013 | 12:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
PBD China Melambat, No Problem!
Headline
IST
Oleh: Th. Asteria
ekonomi - Jumat, 13 April 2012 | 12:54 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Hong Kong - Perekonomian China kuartal pertama 2012 mengalami perlambatan. Namun, para analis sepakat hal tersebut bukan masalah serius.

Robert Howe, ekonom dari Geomatrix, angka-angka Produk Domestik Bruto (PDB) China menunjukkan pelambatan yang alami. "Pertumbuhan tidak dapat dipertahankan pada 9,2%, apalagi dalam dua digit," katanya, Jumat (13/4/2012).

Sementara Song Seng Wun, dari CIMB Research mengatakan, level 8,1% adalah zona nyaman pembuat kebijakan. "Permintaan eksternal melemah, tetapi yang lebih penting, ini adalah efek dari upaya pemerintah untuk memperlambat perekonomian."

Seperti diketahui, PDB China untuk tiga bulan pertama 2012, melambat lebih dari ekspektasi menjadi 8,1%, ketimbang periode yang sama 2011. Demikian menurut data resmi yang dirilis Jumat (13/4/2012).

Angka 8,1% merupakan koreksi tajam dari kenaikan 8,9% dalam PDB negara itu pada kuartal keempat 2011. Pencapaian ini juga meleset dari ekspansi yang diperkirakan para ekonom yang disurvei Research FactSet sebesar 8,5%.

Penurunan pertumbuhan ini sebenarnya sudah diprediksi, sejak Pemerintah China menurunkan target pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 7,5%, menyusul upaya mengurangi ketergantungan ekspor. Hal ini merupakan salah satu upaya meningkatkan ekonomi China, sehingga dapat mencapai kualitas tertinggi untuk melakukan pembangunan periode jangka panjang.

Dalam delapan tahun terakhir, ekonomi China selalu tumbuh sebesar 8%, bahkan bisa lebih. Tahun lalu saja, tingkat PDB negeri itu sebesar 9,2%, dan 2010 mencapai 10,4%. Pesatnya pertumbuhan ekonomi ini menyebabkan tingginya inflasi dan kian lebarnya kesenjangan kemakmuran. Itulah yang membuat China berupaya meredam laju pertumbuhan ekonomi.

Upaya itu penting demi menjaga stabilitas politik dan ekonomi, apalagi akhir tahun ini hingga awal 2013 China mengalami transisi kepemimpinan. Setelah sepuluh tahun memimpin, generasi Presiden Hu Jintao, Perdana Menteri Wen Jiabao akan diganti. Wakil Presiden Xi Jinping, akan disiapkan menjadi presiden, sementara Wakil PM Li Keqiang, akan menjadi PM.

Richard Jerram dari Bank of Singapore mengatakan, pemerintah telah berusaha menyeimbangkan perekonomian, demi pertumbuhan yang berkualitas lebih baik. “Beijing ingin ekonominya tidak terlalu mengandalkan ekspor dan berusaha mendorong daya beli domestik. Pertumbuhan tidak digerakkan oleh ekspor," tambahnya.

Menurut Jerram, pemerintah China berhasil menyeimbangkan kembali ekonomi, menuju mesin domestik. Tetapi, China masih terlalu bergantung pada investasi, ketimbang pengeluaran konsumen. “Untuk itu, pemerintah telah menaikkan upah minimum di seluruh negara untuk mendorong minat belanja,” katanya.

Bahkan, David Carbon, ekonom dari DBS mengatakan, ekonomi China tidak lagi melambat. Menurutnya, jika ekonomi China melambat menjadi 8,1% secara tahunan, pertumbuhan sebenarnya tidak seluruhnya tertekan. “Sebaliknya, pertumbuhan 8,1% secara tahunan, akan menyiratkan pertumbuhan 9% pada marjin, yaitu secara kuartalan."

Ia menuturkan, China dan banyak negara Asia lainnya melaporkan angka pertumbuhan mereka secara tahunan, tapi negara maju tidak melakukan itu sejak akhir Perang Dunia II.

Ini berarti angka pertumbuhan resmi China untuk kuartal pertama 2012, harus dibandingkan dengan tahun lalu. Sebaliknya, AS, Eropa dan Jepang mengukur berapa banyak ekonomi tumbuh, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

"Setiap kali ekonomi berubah, baik ke atas atau ke bawah, Anda akan kehilangan perhitungannya. Jika Anda melihat secara tahunan, atau setiap enam bulan," katanya.

Dengan menghitung angka pertumbuhan China secara kuartalan, Carbon mengatakan perekonomian China mencapai titik terlemah pada kuartal kedua dan ketiga 2011.

Kendati bukan masalah serius, pelambatan ini ternyata juga menekan negara-negara Asia, pasalnya produk ekspor ke China telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi bagi negara di kawasan ini.

Seperti ekonomi Asia utara dari Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong yang sangat rentan. “Sementara negara Asia Pasifik, seperti Australia dan Thailand juga terkena, karena China telah menjadi pasar ekspor terbesar mereka," ujar ekonom Rajiv Biswas. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.