Kamis, 20 Juni 2013 | 04:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-34
Dahlan Iskan: Menjadi Populer Itu Baik
Headline
Dahlan Iskan - inilah.com/Wirasatria
Oleh: Noor Yanto
ekonomi - Senin, 23 April 2012 | 08:00 WIB
Berita Terkait

SEJAK diangkat menjadi Menteri BUMN, Oktober 2011, Dahlan Iskan kerap mengambil langkah yang tak lazim dilakukan oleh pejabat tinggi. Ia mengundang direktur BUMN hanya untuk rapat, bukan urusan lain.

Ia mengintensifkan komunikasi lewat BBM (BlackBerry Messenger), sehingga bisa menghemat sejumlah sumber daya: waktu, bensin, biaya makan, dan lain-lain. Bahkan, langkahnya ini sering dilakukan ketika menjadi Direktur Utama PT PLN.

Beberapa hari lalu, Dahlan mengeluarkan keputusan yang dianggap kontroversial, yakni Keputusan Menteri (Kepmen) BUMN Nomor KEP-236 /MBU/ 2011 tentang Pendelegasian Sebagian Kewenangan atau Pemberian Kuasa Menteri Negara BUMN sebagai Wakil Pemerintah kepada Direksi, Dewan Komisaris Pengawas, dan Pejabat Eselon I di Lingkungan Kementerian BUMN.

Kepmen itu dianggap sebagian anggota DPR melanggar Undang-Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN, karena penunjukan direksi BUMN tanpa melalui mekanisme rapat umum pemegang saham dan tim penilaian akhir. Karena dianggap melanggar undang-undang, sebanyak 38 anggota DPR berencana menggunakan hak interpelasi.

Apa komentar Dahlan soal interpelasi dan gaya cowboy-nya yang mengundang pro dan kontra di masyarakat? Wartawan InilahREVIEW, Noor Yanto, mewawancarai Dahlan Iskan di ruangan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa malam pekan lalu, setelah ‘memburu’ sejak di Kantor Kementerian BUMN, Kantor Menko Perekonomian, dan pabrik PT Indofarma di Cibitung, Bekasi. Petikannya:

Mengenai interplasi yang akan dilakukan DPR?

Saya selalu menghargai pelaksanaan hak-hak konstitusi DPR. Jadi interpelasi merupakan konstitusi anggota DPR yang harus dihormati, harus dihargai. Tidak boleh dihalangi maupun dicegah. Jadi itu hak mereka, kita tidak bisa menghalangi dan mencegahnya.

Dasar argumentasi Anda melakukan tindakan kontroversi tersebut, yang berbuntut rencana interpelasi oleh DPR?

Namanya juga kontroversi, ada satu pihak yang mengatakan itu melanggar undang-undang. Ada pihak lain yang mengatakan tidak melanggar. Jadi saya ikut saja maunya bagaimana, DPR maunya bagaimana dan rakyat maunya bagaimana. Terpenting bagi saya negara menjadi maju.

Argumentasi Anda?

Tidak ada argumen. Saya hanya ingin negara ini maju, birokrasi lebih sederhana, lalu perusahaan jangan ruwet. Jangan seperti yang sering disindir-sindir oleh rakyat, kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit. Ya, kaya begitulah… Namun, kalau itu tidak boleh juga, ya silakan saja.

Dasar pemikiran Anda menempuh kebijakan tersebut?

Dasarnya untuk kemajuan. Hanya itu saja.

Apakah Anda tahu ada beleid yang kemudian dinilai oleh DPR dilanggar?

Tidak apa-apa. Indonesia selalu begitu. Kalau saya melakukan itu jadi persoalan, lalu juga jika melakukannya jadi persoalan. Sama saja, berarti mendingan melakukan.

Anda sendiri sebenarnya sudah tahu adanya UU No. 19/2003?

Anda pikir saya tidak tahu ya? Anda menganggap saya melanggar undang-undang? Tidak apa-apa kalau Anda menganggap saya melanggar undang-undang, asal banyak orang yang menganggap saya tidak melanggarnya.

Apa persiapan Anda menghadapi interpelasi?

Tidak ada yang dipersiapkan. Memangnya harus pakai jas, pakai batik? Ya, tidaklah. Biasa saja, hidup dijalani saja.

Kalau benar-benar interpelasi itu terjadi, Anda akan mengambil tindakan apa?

Tidak ada.

Anda akan menerima saja?

Ya, iyalah. Terserah maunya apa, saya ikut saja.

Dalam pemikiran Anda, interpelasi itu apa?

Tidak mengerti saya. Saya tidak mikirin. Lebih baik saya kerja

Harapan Anda mengenai interpelasi?

Nggak ada. Saya percaya pada kerja yang benar.

Apakah ada pemikiran dari Anda, bahwa interpelasi ini berbau politis?

Aduh, saya tidak berpikir hingga sejauh itu. Terserah saja.

Akhir-akhir ini, Anda kelihatan lebih populer?

Mau populer atau tidak, tidak saya pikirkan. Menjadi populer itu baik, juga sebaliknya. Tidak apa-apa, orang hidup ya seperti ini.

Ini kan berawal dari kasus yang terjadi di pintu tol. Bagaimana Anda melihatnya?

Ya, ini kan gara-gara Anda semua juga. Ngapain hal begitu saja diberitakan segala? Saya waktu itu buka pintu tol bukan untuk diberitakan kok. Saya tidak bawa wartawan, juga tidak mengajak wartawan dan memberitahukan ke wartawan. Kalau saya ingin populer hari itu saya bawa wartawan kan.

Lalu ke depannya, akan ada gebrakan baru dari Anda?

Gebrakan bukan baru ini saja saya lakukan. Sejak di PLN dulu sudah saya lakukan, bahkan sebelumnya sudah saya lakukan juga. Selain itu, melakukannya kan tidak sekali dua kali. Di PLN mungkin sudah ratusan, bahkan ribuan kali, hanya saja mungkin tidak ada orang yang peduli. Ini bukan hal yang baru bagi saya. Apanya yang baru?

Ada orang yang melihat popularitas Anda sedang naik. Ini dikhawatirkan akan mengungguli tokoh nasional lain yang ada di parpol. Apakah Anda berpikiran seperti itu?

Sama sekali tidak, ngapain begitu-begitu. Saya ini tidak punya maupun berpartai, apanya yang dipikirkan? Tidak ada.

Soal isu bahwa Anda akan menjadi capres 2014 nanti?

Jadi apa sajalah. Tidak jadi apa-apa, juga nggak apa-apa. Dulu waktu diangkat jadi menteri, bahkan sampai menangis agar bukan saya. Saya minta biar menyelesaikan kerja di PLN. Masih banyak gebrakan di sana yang harus dilakukan. Apalagi?

Kalau ada parpol yang akan mencalonkan, Anda siap?

Saya kira semua parpol pasti akan mencalonkan ketua umumnya. Mana ada parpol yang mencalonkan orang lain? Bangun parpol itu susah, kader-kadernya harus sudah bekerja keras bertahun-tahun. Begitu ada capres, masak mencalonkan orang lain? Itu tidak mungkin terjadi. Partai itu dibangun untuk merebut kekuasaan. Itu doktrin dasar partai politik. Lalu jika kekuasaan sudah di depan pintu, masa dikasih ke orang lain yang tidak berpartai.

Jika ada parpol yang meminang Anda?

Ya itu, masak ada partai yang meminang orang? Itu tidak make sense, jadi tidak usah berpikir seperti itu. Pertama, hidup akan terbelenggu. Kedua, kita mau kerja keras nanti dinilai ada maksudnya. Kalau sekarang kan saya mau kerja apa saja tidak peduli, dan tidak dihubungkan apa-apa.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-34 yang terbit Senin, 23 April 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.