HARI-HARI ini, nama Dahlan Iskan ramai disebut-sebut. Wajahnya acapkali masuk televisi. Bos Kementerian BUMN itu, seringkali dibahas di media cetak, elektronik, dunia maya sampai obrolan warung kecil. Publik terus dicekoki sepak terjang pria kelahiran Magetan, Jawa Timur itu.
Di kalangan eliteparpol, banyak pula yang tertarik dengan figur Dahlan. Keberanian, kecepatan serta kesederhanannya, berhasil menarik simpati sejumlah politisi. Akhir tahun lalu, Ketua DPP Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla melontarkan wacana untuk menjadikan Dahlan sebagai calon presiden (capres) 2014. Alasannya sederhana, gebrakan mantan bos Jawa Pos Grup itu di BUMN membuat simpati publik, tak berhenti mengalir.
Namun, Dahlan bukanlah politisi. Untuk menjadi capres, dia tak punya kendaraan politik. Untuk itu, Ulil bertekad memperjuangkan Dahlan di internal Partai Demokrat. “Karena, Dahlan punya kemampuan dan kapasitas,” katanya.
Selain itu, di mata Ulil kemampuan leadership pria kelahiran 17 Agustus 1951 ini, cukup istimewa. Sepak terjang bisnis Dahlan, teruji dengan berkembangannya Jawa Pos, salah satu koran nasional terbesar. Ditambah lagi, latar belakang jurnalistik, membuat Dahlan berbeda dengan tokoh lainnya. “Untuk 2014, diperlukan pemimpin alternatif. Tidakhanya1 atau 2tokoh yang stok lama. Kita butuh nama-nama baru,” kata Ulil.
Awal Januari 2012, sinyal dukungan untuk Dahlan akhirnya berlanjut ke Cikeas. Di depan pelaku pasar Bursa Efek Indonesia (BEI), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak sungkan menyatakan kekagumannya. Pujian dari SBY terlontar berulang kali. “Dahlan, saya akui kinerjanya bagus. Beliau cepat tanggap dengan tugas yang diberikan. Target penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) BUMN di 2012, tampaknya bisa dilampaui,” kata SBY.
Menurut SBY, Dahlan tergolong menteri yang cekatan dan responsif. Tugas yang diberikan acapkali sesuai harapan dan cepat selesai. “Tugas yang semestinya selesai dalam seminggu, justru bisa diselesaikan tak lebih dari tiga hari,” kata SBY.
Memang, bukan kebiasaan SBY melontarkan pujian kepada anak buahnya. Bisa jadi, sikap Presiden SBY itu, pertanda ancang-ancang Partai Demokrat mengusung Dahlan sebagai capres.
PKS, Golkar, PAN
Kubu PKS punya suara sama. Nama Dahlan layak masuk bursa untuk capres 2014. Diakui Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, popularitas Dahlan terkerek karena kinerja. “Dahlan Iskan? Sosok yang sangat bagus,” ujar calon gubernur DKI Jakarta ini.
Selama menjabat Dirut PLN sampai Meneg BUMN, menurut Hidayat, lelaku Dahlan cukup kinclong, dibanding menteri lainnya. “Beliau adalah pekerja keras, tak banyak hobi omong apalagi berwacana. Sudah berpengalaman di birokrasi atau organisasi, cocok sebagai presiden,” kata Hidayat.
Bagaimana Partai Golkar? Menurut Sekjen Partai Golkar Idrus Marham, gebrakan Dahlan berhasil ‘menyihir’ simpati publik. Namun, untuk menjadikan Dahlan sebagai capres di 2014, Golkar keberatan. “Saat ini, Golkar tengah fokus tentang capres. Yang diharapkan berasal dari kader Golkar, yakni Bang Ical (Aburizal Bakrie),” katanya.
Bagaimana kalau Ical disandingkan dengan Dahlan? Kubu beringin terlihat malu-malu. Menurut Idrus, perlu kajian mendalam untuk menetapkan duet capres dan cawapres. ‘’Semua tokoh yang berpeluang, tentu akan kami dekati. Tetapi sekarang kan belum. Golkar tidak ingin main-main, asal pilih. Karena target Golkar adalah menang,” ujar Idrus.
Seperti halnya Golkar, PAN tampaknya juga mengesampingkan Dahlan dijadikan capres. “Partai-partai tentu akan memprioritaskan kadernya. Saya kira, Dahlan cocok sebagai cawapres saja,” ujar Viva Yoga Mauladi, Ketua DPP bidang Pemenangan Pemilu PAN.
Sebagian parpol boleh saja kepincut dengan langkah Dahlan. Tapi semua dukungan bisa jadi berbalik arah, lantaran politik tidak menjamin kepastian awal.
Yang jelas, ahli komunikasi politik, Effendi Ghazali bilang, selama rakyat diuntungkan dengan gebrakan Dahlan, tak ada yang perlu diributkan. “Yang menjadi persoalan adalah, ketika seorang calon melakukan pencitraan namun kosong dan tak membawa manfaat bagi masyarakat,” kata Effendi kepada InilahREVIEW.
Betul juga. .
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-34 yang terbit Senin, 23 April 2012. [tjs]