Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 2 Februari 2015 | 01:07 WIB
Hide Ads

China, Tak Betah di Negeri Sendiri

Oleh : Jagad Ananda | Senin, 23 April 2012 | 06:30 WIB
China, Tak Betah di Negeri Sendiri
IST

SEPERTI yang diramalkan oleh para analis di awal tahun, kebijakan atas bisnis properti oleh pemerintah China, akhirnya makan korban. Puluhan perusahaan menyatakan diri bangkrut. Mereka tak sanggup lagi membayar utang, lantaran dagangannya kurang pembeli.

Kisah tragis yang dirilis sejumlah media di China itu seakan melengkapi nasib sial dunia properti di sana. Berita tentang suramnya bisnis ini, sebenarnya, sudah lama tersiar dengan munculnya kota-kota hantu di sana. Banyak kompleks yang dibangun para pengembang tak laku.

Harga rumah, yang sejak 2005 selalu melesat pun, terus mengalami pelemahan. Dan jutaan rumah kini kosong tak berpenghuni.

Tragediyang berlangsung di bisnis properti ini, tak lepas dari kebijakan pemerintah setempat. Setelah mengetahui sektor ini menyumbangkan tingkat inflasi yang cukup besar, mulai tahun lalu, pemerintah China melakukanpengetatan berupa peningkatan suku bunga dan pembatasan pinjaman bank.

Mirip yang terjadi di Indonesia sekarang, uang muka (DP) kepemilikan rumah pun dinaikkan, seiring ditingkatkannya pajak properti. Dan yang tak kalah memukul, pemerintah membatasi kepemillikan rumah oleh seseorang.

Tujuannya, tak lain, agar hargapropertikembali ke nilai wajar. Sehingga lebih membuka kemungkinan bagi masyarakat yang belum memiliki rumah. "Kita akan melihat lebih banyak lagi pengembang properti kecil yang bangkrut atau menjual aset-aset mereka,"kata Jinsong Di, analis properti dari Credit Suisse Group AG di Hongkong.

Melihat kondisi yang tak menguntungkan, kalangan berkantung tebal China mengalihkan sasarannya ke properti di manca negara. Collier International mencatat, kini banyak warga China yang menanamkan uangnya di perumahan dan apartemen di London, Kanada dan Singapura. Di sana sedikitnya 35% properti dimiliki warga China. Sementara di Singapura, China menguasai 30 persen proyek pembanguanan properti baru. [tjs]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

56090

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.