Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 September 2017 | 15:11 WIB

Divestasi "Merah-Putih" Newmont (Bag 2)

Oleh : Andi Suruji | Senin, 23 April 2012 | 18:00 WIB
Divestasi
Ist
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Saat ini saham Newmont Nusa Tenggara, telah dikuasai 44% oleh pemprov, pemda, swasta nasional. Pemerintah di daerah bersama mitra swastanya sudah menguasai 24%.

Jika divestasi tujuh persen itu selesai, berarti saham Newmont sudah mayoritas (51%) ada dalam genggaman nasional. Persoalannya memang adalah siapa yang paling berhak atas tujuh persen saham tersebut. Pemerintah pusat, melalui Pusat Investasi Pemerintah berkeinginan kuat juga mengambil jatah tersebut. Daerah pun demikian.

Pascadivestasi, jika tujuh persen itu diambil pusat, jelas bertambah pihak yang memilikinya. Suatu perusahaan yang dimiliki banyak pihak, memang baik, karena banyak yang mengontrolnya. Tetapi itu berlaku kalau perusahaan terbuka, alias sahamnya tercatat dan diperdagangkan di bursa saham. Masalahnya Newmont ini tidak termasuk kategori perusahaan seperti itu.

Kalau saja pemerintah pusat mau "berdamai" sengan pemegang saham nasional yang ada selama ini. Sahamnya tetap diambil tetapi "diserahkan" kepada pihak nasional lainnya. Posisi nasional akan menjadi lebih kuat. Kontrol bisa dilakukan secara baik, dengan hak penempatan direktur utama, direktur keuangan, direktur yang membidangi CSR. Juga dalam hal mendudukkan komisaris yang akan berfungsi sebagai pengawas.

Dengan cara itu, pemerintah pusat tinggal membuat perjanjian dengan pihak swasta nasional dan daerah untuk menyusun skenario-skenario yang saling menguntungkan, terutama dalam hal kontribusi perusahaan kepada negara. Misalnya, menentukan pembagian dividen, alokasi dana CSR diperbesar, terutama kegiatan sosial yang lebih berdampak pemberdayaan seperti di bidang ekonomi dan peningkatan pendapatan alias kesejahteraan masyarakat sekitar perusahaan beroperasi.

Andai pelepasan saham ini bisa dilakukan dengan pola "divestasi damai" dengan cara "merah-putih" tersebut, bangsa ini tidak perlu menghabiskan tenaga dan pikiran, serta dana yang begitu besar hanya untuk hal-hal yang sebenarnya mudah dilakukan. (Bersambung....) [tjs]

 
x