Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 3 Agustus 2015 | 22:05 WIB
Hide Ads

Siapa Mau Tinggal Di KEK?

Oleh : Jagad Ananda | Selasa, 24 April 2012 | 13:10 WIB
Siapa Mau Tinggal Di KEK?
Foto : Ilustrasi

TIDAK masuknya pasal tentang kepemilikan asing dalam Undang-Undang Agraria membuat pasar properti nasional terus menurun. Ditambah, sebentar lagi (Juni depan), pemerintah akan memberlakkan uang muka minimal untuk kepemilikan rumah sebesar 30%. "Makin babak belurlah bisnis kami," kata seorang pengurus Real Estat Indonesia (REI).

Makanya, tidak aneh kalau sejumlah pengurus REI ragu, penjualan properti tahun ini bisa mencapai target yang ditetapkan, 100 ribu unit. Alasannya jelas, sudah asing tidak diperkenankan membeli, pasar lokal pun ditekan dengan uang muka yang tinggi. Di Pulau Batam, contohnya, penjualan properti tahun lalu hanya mencapai sekitar 10 ribu unit. Turun 33% dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah berencana untuk mencari celah dalam UU Agraria. Salah satunya adalah dengan memberikan izin kepemilikan asing di wilayah Kawasan Eknomi Khusus (KEK). Kementerian Perumahan Rakyat bersama Kendagri, Badan Pertanahan Nasional dan Kementerian Keuangan, kini tengah menggodok sebuah aturan yang memungkinkan asing untuk memiliki rumah dengan masa pakai hingga 90 tahun di KEK.

Menurut Djan Faridz, Menpera, aturan baru tersebut akan segera diturunkan tahun ini juga. "Jadi tak perlu mengamendemen UU Agraria, yang selama ini menjadi ganjalan bagi kepemilikan asing," katanya. Hanya saja, ya itu tadi, Permenpera ini baru akan diberlakukan di KEK, seperti Batam, karimun dan Bintan.

Rencana ini, langsung disambut oleh kalangan pengembang. Namun, kata seorang developer kakap di Jakarta, kalau hanya diberlakukan di kawasan ekonomi khusus, peraturan baru ini tidak akan efektif. Alasannya, selain lahan yang tersedia terbatas, tak banyak asing yang berminat tinggal di KEK. "Paling yang hidup cuma Batam dan sekitarnya," katanya.

Asal tahu saja, pertumbuhan properti di negeri ini, yang paling pesat hanya terjadi di dua kota, yakni Jakarta dan Denpasar dengan pertumbuhan antara 15% - 20%. Penelusuran yang dilakukan Knight Frank, sebuah lembaga riset properti internasional, menunjukkan, larisnya properti di dua kota tersebt didorong oleh harganya yang masih murah.

Di Jakarta misalnya, harga tanah masih berada di kisaran US$ 2.900 per meter. Bandingkan dengan harga lahan di Monaco yang sudah mencapai US$ 58.300 per meter persegi. [tjs]

Berita Terkait Lainnya

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.