Sabtu, 1 November 2014 | 14:55 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sapi Gila AS, Berkah Untuk Aussie
Headline
Ist
Oleh: Th. Asteria
ekonomi - Kamis, 26 April 2012 | 17:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Canberra - Industri ternak sapi Australia siap mengisi kesenjangan pasokan di Jepang dan Korea Selatan, jika mereka melarang impor daging sapi AS. Hal ini menyusul penemuan kasus baru penyakit sapi gila di California.

Lukas Mathews, analis pertanian di Commonwealth Bank of Australia mengatakan, ekspor daging sapi Australia akan diuntungkan, jika Jepang dan Korea Selatan memberlakukan pembatasan pada daging sapi AS, "Saat ini, kita tidak mengharapkan ada perubahan signifikan terhadap kebijakan impor, namun kita perlu mencermati hal ini," katanya.

Hal senada diungkapkan Andrew Simpson, direktur kebijakan ternak sapi untuk petani AgForce yang berbasis di Queensland. Menurutnya, Australia siap menyediakan setiap kekurangan ekspor, jika situasi di AS bertambah parah.

Harga dan permintaan daging sapi menggila setelah larangan ekspor diberlakukan pada 2003. "Ini adalah keuntungan besar bagi siapa saja yang menjual komoditas ini," katanya dalam wawancara dengan Dow Jones Newswires.

Amerika Serikat, Australia dan Brasil adalah tiga pemasok terbesar untuk perdagangan daging sapi dunia. Permintaan daging sapi Australia sempat melonjak pada 2003, ketika Jepang melarang impor daging sapi AS, hanya beberapa jam setelah penemuan penyakit sapi gila dalam daging, dari negara bagian Washington.

Setelah larangan impor AS, ekspor daging sapi Australia ke Jepang melonjak 41% pada 2004, sementara ekspor daging sapi Australia ke Korea Selatan melesat 50%. Harga rata-rata daging sapi Australia tanpa tulang beku ke Jepang melonjak 20% menjadi 3,78 dolar Australia per kilogram, free on board. Tahun berikutnya, total ekspor daging sapi AS anjlok 75%.

Ketika itu, Jepang menurunkan larangan pada impor AS pada Desember 2005, sementara Korea Selatan terus memberlakukan larangan hingga 2007.

Pihak berwenang di Jepang dan Korea Selatan pada Rabu (25/4) setempat mengatakan, tidak punya rencana untuk mengubah kebijakan impor daging sapi AS mereka. Namun, dua peritel besar Korea Selatan sudah menarik daging sapi Amerika dari rak-rak mereka, setelah penemuan bangkai sapi yang sakit di pabrik pengiriman di California, meskipun salah satunya kemudian melanjutkan perdagangan.

Sementara Indonesia mengatakan akan melarang impor daging sapi AS. Wakil Menteri Pertanian Indonesia Rusman Heriawan mengatakan, larangan daging sapi AS akan dikenakan Kamis dan tetap berlaku sampai ada jaminan ternak AS bebas dari penyakit ini.

Untuk menebus kekurangan pasokan daging dari AS. Indonesia akan meningkatkan impor daging sapi dari Australia, Selandia Baru dan Kanada.

Simpson dari AgForce mengatakan respon pasar dengan kasus sapi gila kini telah "dewasa", terlihat dari perdagangan yang kembali normal, setelah otoritas AS menyatakan bahwa daging dari sapi yang sakit tidak masuk rantai makanan.

Kendati demikian, ia memperingatkan bahwa berita ini negatif untuk pasar daging sapi secara keseluruhan, karena konsumen cenderung menghindar makan daging, dalam menanggapi setiap kasus penyakit baru.

Rabu kemarin, pasar ternak sapi Australia ditutup untuk liburan nasional. Sedangkan ternak sapi AS berjangka sudah rebound dari panik jual sehari sebelumnya, setelah Kementrian Pertanian AS mengatakan tidak ada daging dari sapi perah California yang masuk ke pasokan makanan AS.

Tetapi penemuan sapi gila berimbas pada pasar AS lainnya pada Rabu, seperti melonjaknya harga pakan biji-bijian. "Ada harapan bahwa importir akan kembali pada daging sapi AS. Hal ini menciptakan gelombang kejut melalui rantai pasokan," kata Commonwealth Bank Mathews.

Meat & Livestock Australia Ltd, yang menyediakan saran pemasaran dan penelitian untuk produsen ternak Australia, mengatakan sedang ‘memantau’ situasi."Reaksi ini mungkin jauh lebih terukur dari kejadian serupa pada 2003", kata Tim McRae, manajer perusahaan untuk informasi pasar.

Pakta perdagangan yang ditandatangani antara AS dan Korea Selatan sejak wabah sapi gila lalu, telah membatasi tanggapan spontan. Bentuk manusia dari penyakit sapi gila, juga disebut bovine spongiform encephalopathy, telah dikaitkan dengan lebih dari 100 kematian, terutama di Inggris dan Eropa.

Australia sejauh ini telah menghindari berbagai wabah penyakit sapi gila, yang paling sering menyebar pada peternakan, melalui pakan yang terkontaminasi. Ternak sapi Australia sebagian besar merumput di padang rumput, termasuk di stasiun ternak sapi besar tanpa pagar, dimana jarang terlihat manusia.

Sepertiga dari sapi Australia menghabiskan waktu di feedlots sebelum disembelih. Mereka juga mengkonsumsi makanan biji-bijian bergizi tinggi, sebagian untuk mencapai harga yang tinggi di beberapa pasar, terutama Jepang.

Para ilmuwan mengatakan, kasus terbaru penyakit sapi gila di AS adalah atypical atau khas, karena sapi itu terjangkit penyakit secara spontan, bukan karena mengkonsumsi pakan yang berisi sisa-sisa ternak yang terinfeksi. Praktek menggunakan produk samping sapi dalam pakan ternak kini dilarang di AS. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER