INILAH.COM, Jakarta - Pantas, memang, jika Bank Mandiri mengotot ingin melepas obilgasi rekapitalisasi yang dimilikinya. Sebab, surat utang inilah yang membuat laba bank terkaya ini menciut 10%, pada triwulan I-2012.
Seperti diketahui, Bank Mandiri kini masih mengempit obligasi rekap senilai Rp 78,5 triliun. Dari jumlah itu, hanya sekitar Rp 1 triliun saja yang menguntungkan lantaran memberikan pendapatan bunga tetap (fixed rate) antara 12%-13%. Sementara sebagian besar sisanya, berbunga mengambang (variable rate), yang kini berada di level 4%. Padahal, ketika masih berkiblat pada bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI), tahun lalu, surat utang ini masih menghasilkan bunga antara 6%-7%.
Jadi, pantas, jika pendapatan bunga Mandiri dari obligasi rekap menggerus laba yang diraih secara signifikan. Sebab, ”Setiap penurunan bunga obligasi sebesar 1%, kami kehilangan pendapatan Rp700 hingga Rp800 miliar,” kata Pahala N. Mansyuri, Direktur Keuangan Bank Mandiri.
Makanya, manajemen kini tengah bersiap-siap untuk melepas obligasi rekap yang boleh dijual senilai Rp 54 triliun (sisanya mesti menunggu hingga jatuh tempo). Tapi yang jadi pertanyaan, dana pensiun dan perusahaan asuransi mana yang mau membeli? Pasalnya, tak satu pun dari direksi di empat BUMN yangmenyatakan minatnya untuk menyerap oibligasi Mandiri.
“Buat apa mengoleksi obligasi yang hanya menghasilkan empat persen? Sementara banyak sarana investasi lain yang tak kalah aman dan lebih menguntungkan,” kata seorang direktur di sebuah perusahaan dana pensiun.
Menurut dia, pemerintah sebaiknya tidak sembarangan menunjuk perusahaan yang menyerap obligasi Mandiri. Kasus IPO Garuda Indonesia harus dijadikan contoh buruk di masa lalu. Waktu itu, sejumlah perusahaan asuransi milik pemerintah ‘setengah dipaksa’ untuk berpartisipasi membeli saham Garuda (GIAA). Akibatnya, mereka harus menanggung rugi, karena harga GIAA terperosok, “Jadi, jangan paksa kami,” katanya. [tjs]