JANGAN heran, jika investor asing begitu bernafsu menanamkan uangnya di perbankan nasional. Sebab, laba yang diperoleh sangat besar. Lihat saja net interest margin atau NIM, di perbankan nasional, saat ini minimum berkisar antara 5% hingga 6%.
Bahkan, tak sedikit bank yang bisa mencatatkan NIM, jauh di atas itu. Contohnya seperti Bank Danamon, yang pada kuartal I-2012 lalu, berhasil meraih NIM 8,15%. Sementara NIM perbankan regional, saat ini hanya sebesar 2% hingga 3% saja.
Saat ini jumlah bank asing yang beroperasi di Indonesia sebanyak 10 bank, yakni Bank of China, HSBC, Bank of America, Deutsche Bank, JP Morgan Chase Bank, Standard Chartered Bank, The Bangkok Bank, The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ, dan The Royal Bank of Scotland dengan total aset sebesar Rp 268,296 triliun.
Dari 10 bank asing itu, tiga memiliki aset paling besar, yakni Citibank N.A. Rp 61,773 triliun, HSBC Rp 54,806 triliun, dan The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Rp 48,286 triliun.
Kantor bank asing tersebut sebagian besar berada di Pulau Jawa dan Bali, yakni sebanyak 115, sementara hanya 16 kantor berdiri di Pulau Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Bank yang memiliki kantor paling banyak adalah HSBC dengan 45 kantor, disusul Standard Chartered Bank 27 kantor, dan Citibank 26 kantor. Di Jakarta terdapat 66 kantor bank asing, Surabaya sebanyak 13 kantor, dan Bandung 12 kantor.
Sejak lama Indonesia memang menjadi lahan subur bagi bank asing. Gurihnya bisnis perbankan di Indonesia membuat gerak bank asing makin agresif. Bahkan, beberapa bank asing memiliki pasar yang segmented.
Lihat saja pasar yang dibidik The Bank of Tokyo Mistsubishi UFJ. Meski gigih memasuki market lokal, bank ini memiliki databasenasabah korporasi asal Jepang yang kuat. Begitu pula yang Bank of China dengan captive market-nya, yakni para pengusaha keturunan Tionghoa.
Citibank dan The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) yang gesit masuk market lokal dengan menggaet nasabah kaya melalui layanan wealth management juga tak ingin mengubah porsinya. Kedua bank ini juga mulai masuk segmen pasar lain, yakni usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan kekhususan strategi, para pemain asing ini mampu bertahan dan meraih bisnis yang menguntungkan. Tengok saja kinerja mereka pada April tahun lalu. Aset bank asing tumbuh sebesar 9,21% menjadi Rp 233,70 triliun. Dengan aset sebesar itu, pangsa bank asing mencapai 7,61% jika dibandingkan dengan total aset perbankan yang mencapai Rp 3.069,09 triliun.
Sekarang? Boleh jadi angkanya tambah membengkak. Namun, agresivitas investor asing, kini bakal terbendung oleh protes yang dilontarkan oleh berbagai kalangan di Tanah Air. Pertimbangannya, bukan hanya karena asing hanya sekadar mencari untung. Kepemilikan mayoritas oleh asing di sebuah bank, bisa dimanfaatkan untuk menjalankan praktik pencucian uang.
BATAS KEPEMILIKAN ASING DI SEJUMLAH NEGARA
NEGARA | BATAS MAKSIMUM |
KOREA SELATAN | TIDAK DIBATASI |
FILIPINA | 51% |
THAILAND | 49% |
INDIA | 49% |
MALAYSIA | 25% |
VIETNAM | 30% |
AMERIKA SERIKAT | 25% |
RRC | 25% |
AUSTRALIA | 15% |
Artikel ini juga bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-35 yang terbit Senin, 7 Mei 2012. [tjs]