INILAH.COM, Jakarta - Untuk menyelamatkan industri di Indonesia, tak ada jalan lain kecuali membatasi impor produk China. Apalagi penyelundupan barang dari Beijing terus meluap ke Indonesia.
Mencari bukti tentang barang selundupan dari China seperti berurusan dengan hantu, antara ada dan tiada. Secara de facto, barang-barang selundupan ini benar ada dan berita-berita tentang barang-barang tidak resmi pun sering muncul di media massa. Akan tetapi, data akurat tentang besaran perdagangan selundupan tidak pernah ada karena statusnya memang ilegal.
Dalam kaitan ini, pemerintah RI harus segera membatasi masuknya produk impor khususnya dari China demi menjaga keberlangsungan hidup industri nasional. Produk China dengan harga yang jauh lebih murah sangat diminati konsumen di Indonesia sehingga dikhawatirkan akan menggeser dan menghancurkan produk lokal yang harganya jauh lebih mahal.
Pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada Rimawan Pradiktyo di Jakarta, Selasa (8/5) menegaskan, apabila pemerintah tidak melakukan pengaturan terhadap masuknya produk China, dampaknya akan sangat besar dan merugikan bangsa kita.
Perdagangan Indonesia-China tahun ini diyakini mencapai US$60 miliar (Rp550,8 triliun) atau meningkat 27,65% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar US$47 miliar karena hubungan kedua negara yang semakin dekat.
Ketua Umum Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China Sukamdani Sahid Gitosardjono mengatakan perdagangan terus meningkat signifikan setelah pada 1985 terjadi pemulihan hubungan antarkedua negara.
Pada 1985 tercatat perdagangan Indonesia-China sebesar US$333 juta. Lalu meningkat empat kali lipat lebih menjadi US$1,48 miliar pada 1990. Lalu, pada 2000 tercatat perdagangan kedua negara sebanyak US$4,78 miliar dan 2005 mencapai US$16,79 miliar.
Kendati demikian, Sukamdani mengatakan neraca perdagangan Indonesia selalu mengalami defisit dengan China setelah era 2003. Dalam dua bulan pertama tahun ini, ekspor nonmigas Indonesia ke China sebesar US$2,9 miliar sementara itu impor dari China mencapai hampir dua kali lipat yakni US$4,4 miliar.
Pengamat ekonomi UGM Rimawan Pradiktyo menilai produk China bisa mengungguli produk lokal yang harganya jauh lebih tinggi sehingga konsumen tidak meminati produk lokal yang pada gilirannya akan mematikan perusahaan di dalam negeri.
Akibatnya, banyak perusahaan lokal akan ditutup dan meningkatkan pengangguran di dalam negeri. Kondisi ini akan mendorong investasi asing makin berkurang karena mereka mengalihkan dananya ke negara lain yang akan dijadikan basis produksi.
Para investor asing kemungkinan akan menginvestasikan dana di China maupun Vietnam ketimbang Indonesia sebagai basis produksi dan mengekspor produknya ke pasar domestik. Minat investor berubah karena produsen lebih tertarik berekspansi di China dan mengekspor barang jadinya ke Indonesia.
Namun, dengan meningkatnya impor barang konsumsi, menunjukkan bahwa geliat industri nasional belum terlalu pulih meski ada tren meningkat dibandingkan tahun lalu.
Semestinya pemerintah harus memberikan dorongan kepada pengusaha agar industri lebih bertumbuh. Jika impor dari China dan negara asing lainnya makin tinggi dan masyarakat RI lebih memilih produk impor dari asing, produsen domestik akan beralih menjadi importir. Akibatnya, deindustrialisasi makin meluas. [berbagai sumber]