INILAH.COM, Jakarta – Harga emas terus merosot, bahkan mencapai level penutupan terendah tahun ini. Namun, para pengamat melihat adanya hembusan harapan baru dari China dan India (Cindia).
Pada perdagangan Rabu (9/5/2012) dinihari tadi, harga emas untuk pengiriman Juni turun US$ 34,60, atau 2,1% ke level US$ 1.604,50 per ons di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Ini merupakan penutupan terendah untuk kontrak teraktif sejak 3 Januari, hari pertama perdagangan tahun ini.
Adrian Ash, kepala riset di BullionVault mengatakan, secara keseluruhan, orang mulai capai terhadap krisis finansial. "Meskipun tidak bisa menghindarinya, krisis telah menciptakan kelelahan, dengan emas sebagai investasi,"katanya.
Namun, ia menilai, krisis ini tidak akan segera berlalu, dan investasi kepemilikan emas tetap sangat kuat. Lihat saja permintaan utama pada BullionVault yang dalam lima pekan terakhir, telah menambahkan setengah ton untuk kepemilikan pelanggannya. "Kami melihat peningkatan jangka panjang di divisi Comex, ditambah rebound dalam penjualan koin,”ujarnya.
Senada dengan Jeff Wright, managing director di Global Hunter Securities. Ia melihat ada perkembangan signifikan yang dapat meningkatkan permintaan untuk emas, di tengah penguatan dolar AS dan ketidakpastian situasi Eropa yang membawa emas terkoreksi.
Menurutnya, emas akan kembali menguat, didukung permintaan fisik dari China dan India beberapa pekan mendatang. “Impor emas fisik China mencatatkan rekor pada kuartal pertama, dan tren ini berlanjut dengan adanya peralihan dari kelas aset berisiko di China," katanya.
Sementara itu, imbuh Wright, pasar emas fisik India, sebagai konsumen emas terbesar dunia, sudah berangsur pulih. Hal ini terjadi setelah pemerintah mengumumkan akan membatalkan pajak yang dikenakan pada emas perhiasan dan emas impor.
Menteri keuangan India, Pranab Mukherjee sebelumnya mengatakan akan menggandakan biaya impor menjadi 4% dari semula 2%, pengenaan cukai pada perhiasan bermerek dan pajak transaksi di atas 200 ribu rupee. Langkah pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi impor emas dan mengurangi defisit transaksi berjalan India ini, memicu aksi mogok pada produsen perhiasan India.
Alhasil, impor pada April turun menjadi 30-35 ton, ketimbang 90 ton di tahun sebelumnya, menurut Bombay Bullion Association.
Ross Norman, kepala eksekutif di Sharps Pixley mengatakan, berita dari Cindia merupakan kabar yang sangat penting, “Meskipun tidak menimbulkan perubahan signifikan pada harga spot emas,”ujarnya.
Impor emas China melesat
Impor emas China dari Hong Kong melonjak lebih dari enam kali lipat pada kuartal pertama, menambah keyakinan bahwa negara itu dapat menggantikan India sebagai konsumen terbesar dunia dari logam mulia secara tahunan.
Impor dari Hong Kong 135.529 kilogram (135,53 ton) antara Januari dan Maret, dari 19.729 kilogram pada periode tahun sebelumnya, menurut data BPS Hong Kong. Pengiriman Maret naik 59% dari Februari.
Permintaan emas naik di negara ekonomi terbesar kedua dunia ini, seiring peningkatan pendapatan dan pembatasan pada spekulasi properti. China berpotensi menjadi pembeli emas terbesar tahun ini, secara tahunan. Demikian perkiraan dari produsen yang didanai World Gold Council. Tahun lalu, permintaan total India, termasuk untuk perhiasan dan investasi adalah 933,4 ton sedangkan China 769,8 ton.
"Kami sedang melihat tahun yang solid untuk permintaan China berdasarkan angka-angka awal," kata Nick Trevethan, senior strategi komoditas di Australia & New Zealand Banking Group Ltd "Sementara itu sebagian besar terkait dengan harga, negatif suku bunga riil tetap menjaga permintaan kuat. "
Emas telah turun 15% dari rekor US$ 1.921,15 per ons pada September karena krisis utang Eropa, dikombinasikan dengan meredanya harapan untuk pelonggaran moneter lebih lanjut oleh Federal Reserve, mendorong penguatan dolar.
Konsumen Terbesar
Prospek China menjadi konsumen terbesar emas, mencerminkan naiknya ekonomi negara. PDB per kapita meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2000, menurut data Bank Dunia. Negara ini adalah konsumen terbesar dunia untuk tembaga dan produsen terbesar baja.
Pengiriman emas ke China naik pada Maret menjadi 62.913 kilogram, dibandingkan 39.668 kilogram pada Februari dan 9.166 kilogram pada Maret 2011. China tidak mempublikasikan data perdagangan emas. Tahun lalu, impor dari Hong Kong lebih dari tiga kali lipat menjadi 431.226 kilogram.
Pembelian melalui Hong Kong mungkin menandakan bahwa China sudah mengumpulkan cadangan. Demikian kata broker Sharp Pixley Ltd di London pada Februari. Negara ini terakhir mengutarakan cadangan emasnya, lebih dari dua tahun lalu, yang menyatakan mereka di level 1.054 ton.
"Musim panas biasanya rendah untuk konsumsi emas," kata Liang Ruian, direktur di Pinpoint Investment Consulting Ltd, Beijing. "Jika kita bisa melihat pertumbuhan bahkan di musim seperti ini, menunjukkan sifat tahan banting konsumsi emas China."
"Permintaan kuat China untuk bullion dapat membantu menaikkan harga emas," kata James Steel, analis HSBC Securities (USA) Inc "Pemulihan permintaan akan emas India harus menjadi faktor penting dalam mendukung harga emas." [ast]