INILAH.COM, New York - Minyak mentah berakhir mixed pada perdagangan Kamis (10/5/2012) dengan melemahnya perkiraan data perdagangan China dan melonjaknya produksi OPEC serta data pengangguran AS.
China sebagai konsumen terbesar kedua minyak mentah mengalami pertumbuhan ekspor dan impor bulan April yang melemah. Analis mengharapkan pemerintah China melakukan perubahan kebijakan moneter untuk mendorong ekspansi. Jadi tidak kehilangan momentum pertumbuhan ekonomi.
Sementara organisasi negara produsen minyak dunia (OPEC) mengalami peningkatan produksi hinga 1,6 juta barel per hari menjadi 31,6 juta pada bulan April. Hal ini merupakan dampak pulihnya produksi minyak Irak dan Libya di atas target 30 juta barel per hari yang ditetapkan Desember 2011.
Minyak mentah AS jenis light sweet naik 27 sen menjadi US$97,08 per barel untuk pengiriman Juni. Sedangkan minyak jenis Brent turun 47 sen menjadi US$112,73 per barel di London.
Harga itu juga dipengaruhi data klaim pengangguran AS pekan lalu. Jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran stabil di pekan lalu, di tengah tanda-tanda lain dari ketegasan pasar tenaga kerja.
Klaim pengangguran baru turun 1.000 menjadi 367.000 pada penyesuaian musiman dalam pekan hingga 5 Mei, Departemen Tenaga Kerja Kamis melaporkan. Hasil pada pekan sebelumnya direvisi turun untuk memperhitungkan faktor-faktor musiman. Rata-rata pergerakan empat minggu klaim baru turun 5.250 menjadi 379.000.
Laporan ini melebihi ekspektasi ekonom dalam survei Dow Jones Newswires, yang memperkirakan sebanyak 370.000 klaim baru diajukan pada pekan lalu.