INILAH.COM, Jakarta – Penilaian overweight diberikan untuk sektor perbankan karena pertumbuhan kredit yang cukup baik pada kuartal pertama 2012.
“Kami menilai positif pencapaian pertumbuhan kredit ini. Selain adanya rencana kenaikan bunga term deposit,” ujar Yualdo Yudoprawiro, analis dari Samuel Sekuritas, Jumat (11/5/2012).
Menurutnya, rencana kenaikan bunga term deposit ini positif, karena dapat menaikkan yield penempatan pada Bank Indonesia.
Seperti diketahui, kredit perbankan, tidak termasuk channeling, naik 24,9% YoY pada bulan ketiga 2012, dengan kenaikan tertinggi pada kredit investasi sebesar 30,1%. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh 25,9% dan 20,5%.
Sedangkan dari sisi pendanaan, simpanan mengalami kenaikan 20,19% YoY menjadi Rp2,826 triliun, dengan pertumbuhan giro, tabungan, dan deposito masing-masing 17,8%, 23,9%, dan 20,2% YoY.
Bank Indonesia juga berencana menaikkan suku bunga untuk term deposit yang berjangka waktu satu hingga sembilan bulan.
Di sisi lain, sejumlah bank asing berencana meningkatkan penetrasi kredit usaha kecil dan menengah tahun ini. Standard Chartered misalnya, berencana menaikkan kredit UKM sebesar 60% tahun ini menjadi Rp1,7 triliun. Sementara PT Bank DBS Indonesia menargetkan dapat mencapai kredit UKM pada 2012.
Adapun penyaluran kredit mikro PT CIMB Niaga (BNGA) hingga kuartal pertama 2012 mencapai Rp1,45 triliun atau meningkat Rp1 triliun (220% YoY).
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit mikro mengalami pertumbuhan 14,7% YoY Desember 2012. Angka ini lebih tinggi dari kenaikan tahun sebelumnya 12,3%, yang dikarenakan membaiknya kondisi ekonomi.
Di sisi lain terdapat kenaikan pertumbuhan kredit mikro yang signifikan pada beberapa bank, seperti Bank Mandiri (BMRI) yang naik 70% dan Bank Tabungan Pensiunan (BTPN) yang naik 48%.
Terkait hal ini, Yualdo mengatakan sudah mengindikasikan terjadi perubahan nasabah mikro antar sesama bank,”Hal ini berpotensi menekan suku bunga di sektor UMKM,” katanya. [ast]