INILAH.COM, New York - AS dan sekutunya diperkirakan akan mengalami kesulitan dalam menegakkan sanksi terhadap Iran karena pengembangan program nuklir.
Sanksi tersebut akan dilaksanakan mulai bulan Juii yang secara serentak AS dan sekutunya menghentikan impor minyak mentah dari Iran. "Dampak fundamental dari sanksi ini, kekurangan pasokan akan digantikan Arab Saudi untuk mengisi pasokan minyak mentah yang selama ini dari Iran. Ini alasan kenapa harga minyak mentah akan bullish," kata peneliti minyak dari Societe Generale, Michael Wittner.
Sanksi pada 1 Juli mendatang berpotensi menimbulkan sebuah perang baru. Hal ini akan menjadi pendorong kenaikan premi untuk harga minyak. Demikian mengutip cnbc.com.
Potensi ini sejalan dengan hasil survei Economist Intelligence Unit (EIU) terhadap 800 investor institusi. Hasilnya mengungkapkan risiko utama pemulihan ekonomi global adalah ancaman lonjakan harga minyak mentah. Sebagian pemicunya karena ketegangan AS dan sekutunya terhadap pengembangan nuklir Iran.
Dengan asumsi tidak terjadi konfrontasi militer AS dan sekutunya termasuk Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, EIU memperkirakan terjadi lonjakan harga antara 30-50 persen dalam hitungan hari dan minggu. Kondisi ini berpotensi menghentikan pemulihan ekonomi global dan menyebarkan ancaman resesi.
Walaupun perkembangan politik di Israel, opsinya belum melakukan aksi militer terhadap Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu minggu ini membentuk pemerintahan koalisi dengan partai tengah Kadima yang dipimpin oleh mantan kepala pertahanan Shaul Mofaz.
Dengan terbentuknya koalisi besar dalam pemerintahan Israel menurunkan potensi serangan militer ke Iran tahun ini. Apalagi Mofaz meragukan Israel akan menggunakan kekuatan militernya dalam masalah ini.
AS dan sekutunya akan melakukan putaran kedua dalam membahas nuklir Iran pada 23 Mei mendatang di Baghdad. Seperti halnya putaran pertama pada 14 April lalu, kali ini juga tidak akan menemui kata kompromi. Sebab dari pengalaman selama 9 tahun, Iran sangat anti terhadap Israel.
Pada akhir pekan lalu, minyak mentah jenis light sweet melemah 95 sen menjadi US$96,13 per barel atau di bawah harga rata-rata dalam 200 hari terakhir di US$96,27 per barel. Sementara minyak jenis Brent ditutup di level US$111,40 per barel di London.