TEKAD Sukhoi Civil Aircraft Corporation menggarap pasar Indonesia, berantakan. Pesawat Shukoi, salah satu produknya, yang tengah dipromosikan di Indonesia, hancur berkeping-keping setelah menabrak tebing Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu sore pekan lalu. Padahal, pabrik burung besi asal Rusia ini, semula berniat menggeser dominasi Boeing dan Airbus, yang selama ini menguasai pasar udara Indonesia.
Ini memang bukan rencana baru Sukhoi Civil Aircraft Corporation. Sejak dua dekade lalu, perusahaan ini sudah berniat memasarkan produknya ke Indonesia. Namun, selalu terbentur kekuatan tembok Amerika Serikat (AS) dan Eropa, yang saat itu memiliki hubungan khusus dengan Pemerintah Indonesia.
Kesempatan itu baru terbuka ketika AS dan Barat mengembargo alat utama sistem persenjataaan (alutsista) pada sekitar 1991. Saat itu, TNI dituding telah melakukan pelanggaran HAM di Timor Timur dan Aceh. Di tahun 2003, di era Presiden Megawati, Indonesia mulai melakukan pembelian pesawat-pesawat tempur Sukhoi.
Sukhoi Civil Aircraft Corporation, selama ini dikenal sebagai pembuat pesawat tempur. Namun, sejak tahun 2000 berbarengan runtuhnya Uni Soviet, perusahaan ini mulai memproduksi pesawat komersial bernama Sukhoi Superjet 100.
Kalangan penerbangan menilai, Sukhoi Superjet 100 punya beberapa kelebihan. Di antaranya, irit bahan bakar lantaran badan pesawatnya ramping. Karena itu, pesawat ini hanya menyediakan 98 tempat duduk. Tak hanya itu. Pesawat ini juga murah, hanya US$ 31,7 juta per unit.
Dengan badan yang ramping, pesawat pun tidak butuh landasan yang panjang. Landasan 1.800 meter sudah cukup bagi Sukhoi Superjet 100. Kondisi tersebut membuat pesawat buatan Rusia ini cocok untuk penerbangan regional ke kota-kota kecil di Indonesia. Namun, musibah di Gunung Salak, boleh jadi bakal membuat pasar Sukhoi kembali letoi.
Bersaing Sengit
Belakangan, pasar pesawat berpenumpang di bawah 100 orang memang lagi digandrungi. Selain Sukhoi, Xian Aircraft China asal China memproduksi MA 60 dan Commercial Aircraft Corporation of China (Comac) membikin pesawat jet ARJ 21-700. Kemudian Brasil membuat Embraer E-170 dan Kanada menciptakan Bombardier CRJ-700. Masing-masing pesawat ini berkapasitas 75 sampai 95 tempat duduk dengan jarak jelajah 3.000 km hingga 4.500 km.
Pesawat-pesawat jenis ini tentu saja cocok bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Itulah sebabnya, banyak maskapai penerbangan di Indonesia yang memesan. Untuk Sukhoi Superjet 100, Kartika Airlines sudah memesan 30 unit dan Sky Aviation 12 unit. Kabarnya, Sriwijaya Air, Batavia Air, Pelita Air, Aviastar, juga berencana membeli pesawat ini.
Sebelumnya, Merpati Nusantara Airlines sudah mengorder 40 pesawat jet ARJ 21-700 buatan Comac. Tahun 2011 lalu, perusahaan milik negara ini mendatangkan 15 pesawat MA 60 dari Xian Aircraft China,
Seakan tak mau kalah, Embraer E-170 dari Brasil dan Bombardier CRJ-700 dari Kanada pada Agustus lalu datang ke Indonesia. Dua pesawat ini melakukan demo flight yang ditumpangi oleh sejumlah karyawan beberapa maskapai di Indonesia. Kabarnya, Garuda Indonesia Airlines berniat membeli pesawat-pesawat ini untuk melayani penerbangan jarak pendeknya.
‘Perang’ di udara Indonesia tak hanya terjadi pada kelas pesawat berbadan ramping. Di kelas pesawat berbadan lebar, Boeing asal AS dan Airbus dari Inggris, sudah lama bersaing sengit di Indonesia. Sampai-sampai Kepala Eksekutif Operasional Airbus, John Leahy, sempat menuding Presiden Barack Obama menekan Lion Air ketika maskapai ini November lalu meneken pembelian sebanyak 230 pesawat Boeing 737. Penandatanganan yang diadakan di Bali itu dihadiri Obama dan para eksekutif Lion Air.
Proyek antara Boeing dan Lion Air itu berbiaya sekitar US$ 21,7 miliar atau Rp 195 triliun. Ini merupakan transaksi komersil terbesar bagi sejarah Boeing. Mekanisme pembayaran proyek itu akan dibantu oleh Bank Ekspor Impor AS.
Bagi Obama, proyek itu akan melibatkan 110.000 pekerja industri. Ini merupakan isu strategis bagi Obama. Maklum, Obama bakal mencalonkan lagi sebagai presiden pada Pemilu 2012, dan masalah pengangguran adalah tantangan bagi AS untuk pulih dari krisis ekonomi. Pembelian Boeing itu dipastikan akan menyedot tenaga kerja cukup banyak di AS.
Sebelum kesepakatan antara Boeing dan Lion Air, muncul kabar bahwa Airbus tertarik untuk berbisnis dengan maskapai asal Indonesia itu. Leahy bahkan yakin bahwa Airbus bisa kembali menang bila tidak ada intervensi politik dari Washington. “Proyek tersebut tidak akan terjadi tanpa campur tangan Gedung Putih,” tuding Leahy.
Namun, juru bicara Lion Air, Edward Sirait, membantah semua tuduhan Leahy. “Semua berdasarkan pertimbangan komersial dan kami bebas untuk melakukannya," kata Edward kepada Reuters, saat itu.
Sakit hati Airbus akhirnya terobati ketika pada April lalu PT Garuda Indonesia Tbk membeli 11 pesawat jenis A330-300 senilai US$ 2,5 miliar atau Rp 23 triliun. Hebatnya, kontrak pembelian ini disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Inggris David Cameron di Istana Merdeka, Jakarta.
Dapat Kompensasi
Hingga saat ini belum diperoleh data, sudah berapa banyak jumlah pesawat Airbus dan Boeing yang dibeli para operator penerbangan Indonesia. Banyak kalangan mengatakan, Indonesia hanya dijadikan pasar empuk oleh para pabrikan pesawat luar negeri, tanpa memperoleh alih teknologi.
Namun, tudingan itu tak seluruhnya benar. Sebab, sebentar lagi Boeing Company akan memberikan offset kepada Indonesia. “Offset ini setelah bertahun-tahun kita perjuangkan,” kata Duta Besar Indonesia untuk AS, Dino Patty Djalal, Rabu pekan lalu.
Offset merupakan praktik pemberian kompensasi oleh industri asing sebagai persyaratan dari suatu negara ketika melakukan pembelian. Dalam kasus Boeing, maskapai penerbangan dan TNI AU sudah membeli begitu banyak. Misalnya, pembelian pesawat B737-800NG oleh Garuda dan B737-900ER, B737-Max oleh Lion Air yang jumlahnya lebih dari US$ 20 miliar. Selain itu juga ada pembelian pesawat F-16 dan helikopter Apache oleh TNI AU.
Bentuk offset bermacam-macam. Biasanya ditentukan oleh negara pembeli produk berapa persentase dari nilai keseluruhan transaksi penjualan. Biasanyaoffset dipakai untuk mengembangkan industri domestik negara pembeli, transfer teknologi, memajukan investasi, dan meningkatkan lapangan pekerjaan.
Selain itu juga untuk mendapatkan teknologi baru, mendukung industri domestik yang strategis, mendapatkan akses terhadap pasar baru, meningkatkan nilai ekspor, dan meningkatkan hubungan dengan perusahaan multinasional.
Rakyat Jadi Korban
Hingga saat ini belum diketahui, kompesansi apa yang akan diberikan Boeing kepada Indonesia. Yang jelas, banyaknya pesawat Boeing dan Airbus yang dibeli menunjukkan bahwa langit Indonesia memang menggiurkan. Chairman Air Transport Association (IATA), Tony Tyler saat berkunjung ke Jakarta tahun lalu sempat bilang, pasar penerbangan di Asia Pasifik ke depan yang paling besar adalah China, India, dan Indonesia.
Indonesia memang pasar yang menggiurkan dengan jumlah penduduk sebanyak 240 juta orang. Bukan hanya banyak, tapi jumlah kelas menengahnya juga meningkat.Bank Dunia menyebutkan, 56,5% dari 240 juta populasi Indonesia masuk kategori kelas menengah. Kategori kelas menengah versi Bank Dunia adalah mereka yang membelanjakan uangnya US$ 2 (sekitar Rp 18.000) sampai US$ 20 (sekitar Rp 180.000) per hari. Artinya, saat ini ada sekitar 134 juta warga kelas menengah di Indonesia.
Nah, sudah bisa dibayangkan tertariknya pabrikan pesawat memasuki pasar udara di Indonesia. Apalagi ketika Asean Open Sky diberlakukan pada 2015 nanti. Saat itu diperkirakan, jumlah penumpang bisa mencapai 100 juta orang. "Indonesia paling menggiurkan untuk transportasi udara. Pertumbuhan penumpang kita sekitar dua sampai tiga tahun lagi bisa jadi yang tertinggi di dunia," kata pengamat penerbangan, Chappy Hakim.
Sayangnya, kata mantan Kepala Staf Angkatan Udara ini, infrastruktur dan sumber daya manusia untuk mendukung potensi itu begitu minim. "Pertumbuhan penumpang tidak bisa diimbangi dengan pertumbuhan pilot, perkembangan bandara dan maskapai. Kemudian pengelolaan dari aviation industry ada ketimpangan," ujar Chappy.
Pasar udara ini akhirnya menjadi pertarungan bisnis antarberbagai negara raksasa di Indonesia. Ironisnya, rakyat dan bangsa Indonesia yang jadi korban.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-37 yang terbit Senin, 14 Mei 2012. [tjs]