Rabu, 19 Juni 2013 | 15:17 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-37
Fantastik, Pertumbuhan Penumpang Pesawat
Headline
Chappy Hakim, Mantan KSAU - ist
Oleh:
ekonomi - Senin, 14 Mei 2012 | 09:00 WIB

INDONESIA akan terus menjadi target pasar pabrikan pesawat asing, apalagi saat Asean Open Sky 2015 diberlakukan. Maklum, dengan jumlah penduduk sebanyak 240 juta orang, Indonesia dianggap pasar yang menggiurkan. Tak hanya itu, jumlah kelas menengah di negeri ini setiap tahun juga terus meningkat.

Kalau begitu, berapa banyak pertumbuhan penumpang pesawat ke depan?Vinsensius Segu dari InilahREVIEW mewawancarai mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), yang kini menjadi pengamatpenerbangan, Marsekal (Purn) Chappy Hakim, Jumat pekan lalu. Petikannya.

Bagaimana posisi Indonesia di tengah persaingan pabrikan-pabrikan pesawat asing?

Indonesia memang pasar yang besar, dan demand-nya juga sangat tinggi. Faktanya, dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan penumpang pesawat di Indonesia mencapai 15% hingga 25%. Ini pertumbuhan yang fantastik. Inilah yang menyebabkan orang nawarin pesawat, nawarin kredit pembelian pesawat.

Nah, Sukhoi Superjet 100 meresponsini. Dia datangkan pesawat tersebut untuk dilakukan uji coba, karena harganya bagus. Kebetulan, peminatnya cukup banyak di sini. Hanya saja mereka belum deal untuk meyakinkan produk mereka. Makanya, mereka datang untuk uji coba.

Apa keunggulan Sukhoi dibanding pesawat yang lain?

Semua produk punya keunggulan, punya kelebihan dan kekurangan. Dan, sekarang kan yang lagi bersaing adalah Boeing dan Airbus. Tapi Sukhoi cukup cerdas. Dia kerja sama dengan Boeing dan Airbus. Keunggulannya, Sukhoi menyerap teknologi kedua-duanya. Makanya, dia berharap mendapatkan pasar.

Selama ini Sukhoi dikenal sebagai produsen pesawat tempur, tapi mengapa mau memproduksi pesawat sipil?

Tapi, dia kan merasa mampu. Dia punya pabrik dan teknologi. Kebetulan, produk pesawat tempurnya laku, ya sah-sah saja dia memproduksi pesawat sipil. Sebab, sekarang ini dia memiliki SCA (Shukoi Civil Aircraft).

Apakah karena pasar pesawat sipil sangat besar?

Itu sih sisi bisnis ya. Saya hanya mau menjawab persoalan penerbangan. Kalau soal bisnis, saya nggak tahu.

Jika kemarin tidak terjadi musibah, apakah minat meskapai penerbangan Indonesia terhadap Sukhoi akan besar?

Dia (Sukhoi) menawarkan satu hal yang menggiurkan .Teknologinya mutakhir, harganya murah. Tapi. perlu waktu untuk membangun kepercayaan terhadap satubrand dan meyakinkan peminat untuk beli. Tapi, baru uji coba, langsung jatuh. Ya, pasti orang akan berpikir lagi.

Dalam konteks hubungan Indonesia-Rusia, apakah transaksi jual beli Sukhoi memberi dampak bagi kedua belah pihak?

Ya, semua hubungan pasti saling berpengaruh. Kalau hubungan dagang bagus, pasti yang lainnya bagus termasuk dalam hubungan politik. Jadi sebenarnya bagus-bagus saja.

Bagaimana dukungan kebijakan dalam meningkatkan keselamatan penerbangan?

Begini, demand angkutan udara tinggi, pasar itu bagus sekali. Sehingga orang ramai-ramai bikin meskapai, ramai-ramai beli pesawat, dan ramai-ramai sewa pesawat. Tapi, prasarana dan infrastrukturnya tidak memadai. Itu yang menyebabkan terjadi kecelakaan semakin besar.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-37 yang terbit Senin, 14 Mei 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.