INILAH.COM, Jakarta - Pertamina mulai kuartal ketiga 2012 tidak lagi membeli BBM impor melalui pedagang, tapi langsung ke produsen pemilik kilang minyak untuk efisiensi dan menekan biaya tinggi.
Dirut Pertamina, Karen Agustiawan, sebagai perusahaan minyak negara, Pertamina terus bertekad untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan pada proses pemenuhan kebutuhan BBM nasional.
"Perusahaan berupaya untuk bisa melakukan impor langsung dari NOC, produsen minyak, dan pemilik kilang. Untuk itu, mulai kuartal ketiga 2012 kami akan melakukan langkah-langkah untuk merealisasikan rencana tersebut," ujarnya di Jakarta, Selasa (15/5/2012).
Namun, lanjutnya, hal itu harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan langkah tersebut tidak menimbulkan risiko, seperti kegagalan pasokan impor yang akan berakibat pada terjadinya krisis energi di dalam negeri.
"Kami menyambut baik rencana pemerintah untuk menjembatani upaya kami tersebut karena kontrak langsung biasanya perlu didahului dengan pembicaraan secara government to government (G to G).” ujar Karen.
Selama ini, kata Karen, sistem pengadaan minyak mentah dan BBM yang dilakukan Pertamina telah berjalan dengan baik dan dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Dalam upaya memenuhi kebutuhan BBM nasional yang terus meningkat, Pertamina telah mengutamakan menyerap minyak mentah domestik untuk memenuhi kebutuhan kilang.
Terkait ketergantungan minyak impor, Pertamina memiliki pandangan yang sama untuk secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dan minyak mentah.
Oleh karena itu, Pertamina bertekad untuk merealisasikan proyek dua kilang terintegrasi dan ekspansi wilayah kerja eksplorasi dan produksi untuk meningkatkan cadangan minyak nasional. [rus]