INILAH.COM, Singapura - Harga minyak mentah Brent tergelincir ke posisi terendah dalam empat bulan terakhir pada perdagangan hari ini, tertekan sikap investor yang beralih dari aset berisiko karena gejolak di zona euro.
Di sisi lain, pasokan minyak bisa meningkat sehubungan dengan sikap negara-negara anggota G8 yang menekan cadangan darurat seiring sanksi terhadap Iran pada bulan Juli.
Yunani berpotensi keluar dari zona euro usai gagal membentuk pemerintahan yang mampu menerapkan kebijakan langkah-langkah penghematan, usai pengucuran dana talangan. Investor khawatir keluarnya Yunani dari zona euro akan menyeret perekonomian negara Uni Eropa lainnya.
Harga minyak mentah brent untuk Juli turun 42 sen ke US$109,33 per barel, setelah tergelincir ke US$109,01 per barel, harga intraday terendah sejak 25 Januari 2012. Harga minyak mentah AS naik untuk pertama kalinya dalam lima sesi, yaitu naik 53 sen menjadi US$93,34 per barel.
"Krisis zona euro hanya dapat tuntas dengan satu cara, yaitu Yunani meninggalkan Uni Eropa sementara waktu," Kepala Eksekutif BarrattBulletin, Jonathan Barratt, yang berbasis di Sydney, seperti dikutip dari CNBC.com, Kamis (17/5/2012).
"Jika penularan terus terjadi dan optimisme rakyat terus memburuk, yang bisa menyebabkan turunnya permintaan impor untuk China dan permintaan minyak berada bawah tekanan," tambahnya.
Bank Sentral Eropa (ECB) mengatakan telah menghentikan penyediaan likuiditas untuk beberapa bank Yunani yang belum berhasil direkapitalisasi.