KAMIS sore pekan lalu, sebuah pesan singkat (SMS) masuk ke telepon seluler wartawan InilahREVIEW. Isinya: Lihat saja di blog saya mengenai pergantian direksi BUMN. Permintaan wawancara yang diajukan beberapa hari sebelumnya, akhirnya urung dilaksnakan.
Pesan singkat itu dikirim oleh Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan. Dalam blog yang ditulis dengan judul “Pergantian Direksi yang Bising”, Dahlan menggambarkan riuhnya suasana setiap akan terjadi pergantian direksi di sebuah perusahaan BUMN. “Di antara yang bising-bising itu, yang paling berisik ada dua: proses pergantian direksi di 15 perusahaan perkebunan dan satu perusahaan telekomunikasi,” tulis Dahlan.
Dahlan menggambarkan persiapan pergantian direksi di dua perusahaan BUMN itu ibarat Perang Baratayudha. Calon yang diperkirakan akan menjadi direktur utama dihancur-hancurkan. Lewat SMS maupun kasak-kasuk. Mereka itu harus digulingkan. Kalau perlu sekalian menterinya.
Beredar pula susunan direksi baru di beberapa BUMN yang katanya sudah direstui menteri atau deputi atau DPP berbagai partai. Kalau membaca susunan direksi itu, seolah-olah sudah seperti yang sebenar-benarnya. Beredar pula daftar riwayat hidup banyak orang yang dipuji-puji dengan hebatnya. Merekalah yang dijamin pasti berhasil menjadi direktur atau direktur utama.
Kebisingan itu bertambah karena setiap orang juga melobi kanan-kiri, atas-bawah, muka-belakang. “Termasuk melobi teman-teman dekat saya. Juga melobi adik saya yang hidup sederhana di rumah Perumnas di Madiun. SMS saya pun penuh dengan lalu lintas maki-maki dan puji-puji,” tulis Dahlan.
Menyaksikan riuhnya suasana, Dahlan mengambil kesimpulan: dia harus menjauhkan diri dari bisikan pihak mana pun. Dahlan kemudian menulis begini: “Saya tidak boleh mendengarkan omongan, SMS, surat, telepon, serta segala macam bentuk rayuan dan makian. Saya ingin berkonsentrasi untuk menemukan orang yang memenuhi kriteria yang sudah saya umumkan secara luas: integritas dan antusias. Saya tidak lagi memasukkan unsur kompetensi dan kepandaian. Semua calon untuk level seperti itu pasti sudah kompeten dan pandai.”
Sebelum menemukan mereka itu, Dahlan mendatangi orang-orang yang paham pada bidangnya dan memiliki integritas baik untuk memberikan pandangan yang objektif. Di perkebunan, misalnya, dia menyebut nama Dahlan Harahap, Direktur Utama PTPN IV di Medan.Dahlan menilai, Dahlan Harahap adalah orang yang punya integritas sangat baik, tahan godaan uang maupun politik. Ketika ditawari menjadi Direktur Utama Holding PTPN, Dahlan Harahap menolak.
Dari Dahlan Harahap lah, Dahlan menerima banyak masukan di bidang perkebunan. Dahlan merasa bangga bahwa di BUMN masih ada orang seperti Dahlan Harahap. Ia juga memuji Direktur Perencanaan dan Manajemen Risiko PT PLN Murtaqi Syamsuddin atau Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan. Dahlan bangga pada sikap Karen yang memutuskan tidak menghadiri pertemuan besar di Davos, tapi lebih memilih mengurus perusahaan. “Saya bangga atas sikapnya ini, mengurus perusahaan lebih penting daripadamenghadiri pertemuan sebesar Davos sekalipun,” tulis Dahlan.
Dahlan juga melihat beberapa direktur utama bank BUMN memiliki integritas yang tinggi. Demikian juga orang seperti Ignasius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia. “Saya sungguh berharap akan melihat lebih banyak lagi orang-orang seperti beliau-beliau itu. Integritas dan antusias,” katanya.
Dahlan menginginkan semua direksi di BUMN kompak. Menurut dia, meskipun hebat tapi kalau tidak kompak, tak ada gunanya. “Dia hanya akan seperti soto enak yang dicampur dengan rawon enak,” ujar Dahlan.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-38 yang terbit Senin, 21 Mei 2012. [tjs]