INILAH.COM, Jakarta - Sepanjang 2012, surat utang negara (SUN) Indonesia mencatatkan kinerja terburuk dibandingkan negara-negara lain di Asia. Riset PT Mandiri Sekuritas menunjukkan, return year to date 2012 surat utang negara hanya 0,95% atau lebih rendah dibandingkan surat utang negara China yang sebesar 1,64%.
Selain itu, dibandingkan dengan Korea, kinerja SUN Indonesia juga lebih buruk karena return surat utang negara Korea sebesar 1,94%, begitupun dibandingkan return surat utang Singapura 1,87%, atau dari surat utang Malaysia dengan return 1,67%. Bahkan dibandingkan dengan surat utang Filipina pun juga masih lebih rendah dimana return surat utangnya 0,96%.
"Return obligasi kita hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Thailand," ujar Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto di Jakarta, Rabu (23/5/2012).
Ia menjelaskan, return tersebut berdasarkan perhitungan menggunakan mata uang lokal masing-asing negara dan bila diakumulasikan dalam dolar AS, maka surat utang negara Indonesia tercatat paling terpuruk dengan return minus 2,5%. "Untuk investor asing tidak melihat return local currency, namun mereka lebih melihat return dolar AS currency," ujarnya.
Sebagai informasi, return surat utang berdasarkan mata uang dolar AS untuk Singapura mencapai 3,6%, Malaysia mencatat return 2,8%. Filipina mencatat return 2,5%, China mencatat return 1,1%, Korea dengan return 0,2%, dan Thailand mencatat return minus 0,2%. "Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi pemicu rendahnya return," tutur Handy.
Di sisi lain, keluarnya investor asing dari pasar obligasi Indonesia turut menjadi salah satu penyebab tertekannya harga surat utang negara. "Asing banyak melepas instrumen jangka panjang karena ketidakpastian meningkat karena kekhawatiran inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah," ungkapnya. [tjs]