INILAH.COM, Jakarta - Persoalan meroketnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga menembus harga Rp.10.000/liter membuat anggota DPRD Sulteng angkat bicara.
Anggota Komisi II yang membidangi soal ini, H Asgar Djuhaepa kepada INILAH.COM, Minggu (27/05/12) menyayangkan persoalan ini. Ia pun menyoroti kinerja Pertamina dan Pemerintah Daerah setempat yang tidak tanggap atas fenomena ini.
"Saya sangat menyayangkan kinerja Pertamina dan Pemda Bangkep yang tidak mampu mengantisipasi gejolak di Masyarakat sehingga terjadi lonjakan harga BBM tembus Rp.10.000," kata Ketua DPW PPP Sulteng itu.
Menurutnya, harus diidentifikasi kondisi terkini di masyarakat soal penyebab hingga harga BBM menjadi tinggi. Akar persoalannya harus diketahui secara jelas. Akar masalahnya, kata mantan Staf Khusus BJ Habibie ini, apakah persoalan transportasi ataukah problem lainnya.
"Kita harus investigasi, bersama aparat atau Pertamina hingga secepatnya bisa ditemukan solusi untuk mengatasi masalah ini," tandas Asgar.
Sebelumnya, kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) terjadi disejumlah daerah yang jauh dari pusat Pemerintah, contohnya di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah.
Pantauan INILAH.COM Kamis (24/05/12) di kabupaten pecahan Banggai itu, banyak antrian kendaraan bermotor untuk membeli BBM disejumlah SPBU yang berada di ibukota Kabupaten Bangkep, Salakan.
Namun, bukan hanya kendaraan bermotor yang mengantri, ternyata jerigen-jerigen besar yang kosong juga ikut, bahkan kadang antrian jerigen lebih panjang ketimbang kendaraan bermotor.
Informasi yang berhasil dihimpun INILAH.COM menyebutkan jika jerigen tersebut milik pengecer BBM, yang kemudian menjual Rp.7.000 per botolnya di toko eceran miliknya.
Bahkan, mereka pun menjual BBM tersebut ke Pulau-pulau yang berada di Bangkep, yang harga mencapai angka Rp.10.000 per botolnya.
Imbas dari antrian jerigen ini, kadang suplay BBM untuk kendaraan bermotor pun tidak mencukupi, akhirnya masyarakat pun harus rela membeli Rp.7.000 per botol karena suplay telah habis atau jika tidak ingin ikuti antrian panjang, yang belum pasti dapat jatah. [rus]